Monday, November 5, 2012

Strategi Pengembangan Agribisnis Lebah Madu Di Kecamatan …(PRT-43)

I.   PENDAHULUAN

1.1   Latar Belakang
Kecamatan Panekan terletak disebelah timur lereng gunung Lawu dengan ketinggian 500 – 700 m dpl dan luas wilayah 7.035,738 ha. Kondisi alam pegunungan dengan habitat tanaman hutan, perkebunan, tanaman pangan, hortikultura serta semak belukar. Sebagimana pada daerah beriklim tropis lainnya, semua jenis tanaman tersebut mampu menyediakan bunga  sepanjang tahun, sehingga serbuk sari dan nektar sebagai makanan lebah madu juga tersedia sepanjang tahun. Didukung oleh kondisi alam yang tenang dan ketersediaan sumber air bersih yang cukup sebagai minuman lebah madu maka Kecamatan Panekan sangat berpotensi untuk dikembangkan budidaya lebah madu.

Keadaan tanaman penyedia makanan lebah madu yang ada di Kecamatan Panekan tersebar di 3 Desa, yaitu Desa Jabung, Bedagung dan Ngiliran antara lain (1) Tanaman hutan rakyat 685 ha; (2) Tanaman Perkebunan 965 ha; (3) Tanaman Hortikultura 155 Ha; (4) Tanaman pangan rata–rata 500 ha tiap musim. Semua tanaman tersebut menyediakan serbuk sari dan nektar sebagai makanan lebah pada musim berbunga yang tersebar pada bulan Maret – Nopember (9 bulan) setiap tahunnya. Sedang untuk penyediaan minum bagi lebah, tersedia air bersih dari 13 sumber mata air.

Ada berbagai spesies lebah yang bisa dibudidayakan diantaranya  adalah Apis trigona ( lanceng );Apis cerana indica; Apis mellifera ligustica, Apis dorsata, Apis florea; Apis roschurnikovi dan Apis laborisa. Diantara jenis lebah tersebut Apis mellifera mempunyai sifat–sifat unggul dibanding dengan jenis lebah yang lain, yakni :
a.                               Lebih jinak;
b.                               Produksi madu tinggi 30 – 60 kg madu/koloni/tahun
c.                               Daya adaptasi tinggi dan kurang suka berimigrasi
 
Lebah ini mulai dikembangkan di Kabupaten Magetan sejak tahun 1994 tepatnya di Desa Jabung, Ngiliran dan Bedagung Kecamatan Panekan. Disamping Apis mellifera juga banyak dipelihara spesies Apis cerana yang merupakan lebah lokal.

Pada tahun 1995/1996 telah diuji coba oleh Dinas Perhutanan dan Konservasi Tanah Daerah Kabupaten Magetan bekerjasama dengan PMI Kabupaten Magetan untuk membudidayakan spesies Apis mellifera sebanyak 5 stup lengkap dengan koloni lebah di Desa Jabung Kecamatan Panekan. Pengelolaan di lapangan diserahkan kepada petani anggota Kelompok Tani “Murakapi” sebagai sarana pembelajaran budidaya lebah madu. Hasil madu yang dipanen pada pertengahan tahun 1996 rata–rata produksi 2 – 5 kg madu/stup/koloni. Produksi tersebut masih jauh dari kemampuan produksi lebah jenis Apis mellifera, hal ini disebabkan lebah masih dalam tahap penyesuaian dengan habitat yang baru dan juga petani belum trampil berbudidaya jenis lebah baru. Namun demikian melihat prospek tahun mendatang dipandang cukup baik, maka tahun 1996/1997, PEMDA Tingkat II Kabupaten Magetan dengan sumber dana APBD II memberikan bantuan kepada Kelompok Tani “Murakapi” sebanyak 50 stup lebah.

Perkembangan pemeliharaan lebah madu sampai dengan tahun 2001 di Kecamatan Panekan dipelihara sebanyak 760 stup dengan produksi rata–rata   6 – 15 kg madu/stup/tahun. Dalam keadaan normal pemungutan hasil bisa dilaksanakan 8 X setahun dan produksi antara 15 – 45 kg madu/stup/tahun. Dengan demikian masih ada peluang peningkatan produksi.
Budidaya lebah madu banyak memberikan manfaat bagi kehidupan manusia maupun lingkungan hidup. Beberapa manfaat dari usaha budidaya lebah adalah sebagai berikut :

a.                                Dapat menghasilkan makanan yang bergizi tinggi sehingga sangat berguna bagi kesehatan manusia
Nilai gizi madu :
-                                                          Fruktose ( gula buah – buahan )        : 40    %
-                                                          Glukose ( gula anggur )                                : 35    %
-                                                          Sukrose ( gula tebu )                                    :   2    %
-                                                          Mineral                                                        :   0,1 %
-                                                          Enzim                                                         :   1    %
-                                                          Air                                                              : 20    %
Nilai gizi Royal Jelly ( sari madu / madu ratu ) mengandung vitamin A; B complex; E; C; Bioten dan protein.
b.                                Sengat lebah menyembuhkan penyakit rematik karena mengandung racun ( bee venom ).
c.                                Secara tidak langsung memungkinkan peningkatan produksi pertanian melalui penyerbukan tanaman oleh lebah.
d.                                Menyediakan lapangan kerja dan kesempatan berusaha sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat
e.                                Menyediakan bahan baku industri ( jamu, kosmetik dan kecantikan )
f.                                  Pengembangan penanaman tanaman pakan lebah dalam kawasan hutan dan lahan milik serta pemeliharaannya ikut andil dalam pelestarian lingkungan hidup.

Didalam pemeliharaan lebah madu, agar supaya bisa lestari dan berkembang, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yang dikenal dengan SAPTA KRIDA pemeliharaan madu, yaitu :
a.                               Ilmu pengetahuan yang luas
b.                               Mempunyai rasa kasih sayang
c.                               Mengetahui jenis dan lokasi tanaman pakan lebah
d.                               Jenis lebah yang dipelihara
e.                               Mengatasi pakan di musim paceklik
f.                                 Mengatasi gangguan hama dan penyakit lebah
g.                               Penguasaan panen dan pemasaran.
Permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan usaha madu adalah kerusakan tanaman pakan lebah sebagai akibat masih adanya penebangan liar dan kebakaran hutan serta musim kemarau yang panjang yang mengakibatkan kurang tersedia air bersih sebagai minuman lebah, sehingga kehidupan lebah terganggu dan berpindah,, produktivitas lebah yang masih bertahan menjadi rendah.

Masih banyak petani disekitar hutan yang belum berminat untuk membudidayakan lebah, mengakibatkan kesadaran mereka untuk berpartisipasi didalam melestarikan lingkungan juga kurang. Untuk mengatasi hal tersebut perlu adanya upaya Pemerintah untuk mengadakan pembinaan, bimbingan secara intensif terhadap petani sekitar hutan sehingga tumbuh kesadaran dan motivasi untuk melestarikan  lingkungan dan memelihara lebah madu.
Oleh karena keterbatasan pengetahuan khususnya mengenai biologi lebah dan persyaratan mutu madu maka teknik pemungutan dilaksanakan secara sederhana, sehingga madu yang dihasilkan mutunya rendah. Disamping itu didalam pelaksanaannya sering dijumpai para pemungut madu membakar dan menghabiskan sisiran sarang, sehingga dapat mengganggu perkembangan populasi jenis lebah madu.

Hal lain yang cukup merugikan adalah, sebagian petani lebah madu belum mengetahui arti ekonomis produksi lain yang berupa lilin, bahkan tidak jarang sisiran sarang yang telah diperas dibuang begitu saja. Sebagian dari mereka telah mengetahui manfaat lilin tersebut, tetapi karena keterbatasan pengetahuan dan modal mereka maka penanganan hasil tidak memenuhi persyaratan teknis yang baik, sehingga kualitas lilin masih rendah.

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

No comments:

Post a Comment