Showing posts with label Perikanan. Show all posts
Showing posts with label Perikanan. Show all posts

Monday, February 18, 2013

Pengaruh Pemberian Berbagai Kadar Karbohidrat Dan Lemak Pakan Ber-Vitomolt Terhadap Efisiensi Pakan Dan Pertumbuhan Kepiting Bakau (Scylla Sp.) (IKN-13)

Kepiting bakau (Scylla sp)merupakan salah satu komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Menurut Karim (2005) permintaan konsumen akan kepiting terus meningkat baik di pasaran dalam negeri maupun di luar negeri, menjadikan organisme tersebut sebagai salah satu komoditas andalan untuk ekspor non migas mendampingi udang windu.
Untuk memenuhi permintaan pasar yang cukup tinggi perlu dilakukan peningkatan produksi kepiting bakau baik jumlah maupun kualitasnya. Salah satu perkembangan teknologi dalam budidaya perikanan untuk meningkatkan produksi  kepiting bakau adalah produksi kepiting lunak atau soft shell. Menurut Fujaya (2007) harga jual kepiting lunak dapat mencapai dua kali lipat disbanding kepiting berkulit keras.
Pada mulanya produksi soft shell dilakukan dengan cara mutilasi, namun dianggap kurang efektif. Selain tingkat mortalitas tinggi, juga menyebabkan peningkatan bobot kepiting lambat. Oleh karena itu, Fujaya dkk.(2007) menggunakan ekstrak bayam (Amaranthus tricolor) sebagai stimulan molting. Ekstrak bayam tersebut dikenal dengan sebutan vitomolt yang mengandung fitoekdisteroid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa vitomoltefektif mempercepat dan menyerentakkan molting, tidak menyebabkan kematian, pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan kontrol. Namun, aplikasi vitomoltyang diberikan dengan cara penyuntikan kurang efisien dilakukan dalam skala besar. Upaya yang dapat dilakukan adalah menggunakan pakan buatan sebagai media aplikasi vitomolt.

Pengkajian persentasi nilai nutrisi pakan terhadap pemanfaatan vitomol, sangatlah penting mengingat bahwa kebutuhan dan fungsi-fungsi akan nutrisi pakan akan mempengaruhi laju pertumbuhan kepiting bakau. Menurut Susanti (2009), pakan buatan dalam bentuk moist dengan kadar air 66,65% dengan komposisi nutrien sebagai berikut  protein 50,91%, lemak 5,84%, serat 8,24%, dan BETN 25,76% dalam berat kering, dapat mempercepat pertumbuhan dan molting dengan dosis vitomolt 933 ng/g pakan. Selanjutnya, Busri (2010) membuktikan bahwa penggunaan vitomolt dalam pakan dengan kadar protein 30.62 %, BETN 41.72 %, dan lemak 6.31 % mampu mempercepat molting dan meningkatkan pertumbuhan kepiting bakau.
Terkait hal tersebut di atas, Anonim (2010) dalam www.scribd.com (2010) menerangkan bahwa crustesea memerlukan karbohidrat dalam jumlah yang banyak, karena selain diperlukan sebagai pembakaran dalam proses metabolisme juga diperlukan dalam sintesis khitin dalam kulit keras. Selanjutnya, menurut Anonim (2010) dalam id.wikipedia.org(2010) menerangkan bahwa lemak yang merupakan salah satu nutrisi pakan memiliki fungsi dasar, yaitu menopang fungsi senyawa organik sebagai penghantar sinyal, seperti pada prostaglandin dan hormon steroid dan kelenjar empedu. Ditambahkan oleh (Koolman dan Röhm, 1995) bahwa lemak dalam bahan makanan adalah pembawa energi yang penting. Pada pemberian pakan yang benar, lemak dalam bahan makanan dapat memberikan sekitar 30 – 35% energi tambahan. Menurut Serang (2006) pakan yang mengandung karbohidrat dan lemak yang tepat dapat mengurangi penggunaan protein sebagai sumber energi yang dikenal dengan protein sparing effect. Terjadinya protein sparing effect, karbohidrat dan lemak dapat menyediakan sumber energi untuk pemeliharaan metabolisme, sehingga energi yang berasal dari protein dapat digunakan tubuh untuk pertumbuhan dan bukan digunakan untuk sumber energi.
Mengingat hal tersebut atas maka perlu adanya pengkajian tentang kadar karbohidrat dan lemak pada pakan bervitomolt terhadap efisiensi pemanfaatan pakan dan pertumbuhan kepiting bakau.

Pengaruh Pemberian Berbagai Kombinasi Kadar Karbohidrat Pakan Dan Kromium (Cr+3) Terhadap Deposit Glikogen Hepatopankreas Dan Otot Gelondongan Udang Windu (Penaeus Monodon) (IKN-12)

Udang windu merupakan salah satu komoditas sub sektor perikanan yang diharapkan dapat meningkatkan devisa negara. Permintaan pasar meningkat dengan didukung sumberdaya alam yang cukup besar memberikan peluang yang sangat besar untuk pengembangan budidayanya. Sebagai rantai awal di dalam budidaya udang windu adalah ketersediaan benih yang sering kali merupakan faktor pembatas. Oleh sebab itu, terbatasnya benih hasil tangkapan dari alam mendorong munculnya berbagai panti pembenihan, baik skala besar (hatchery) maupun skala kecil (back yard).
Budidaya udang windu telah mengalami peningkatan. Akan tetapi, beberapa tahun terakhir ini banyak petani tambak yang mengalami penurunan produksi usaha budidayanya. Salah satu penyebab penurunan prduksi tersebut adalah menurunnya sistem kekebalan tubuh udang yang menyebabkan timbulnya penyakit yang berujung pada kematian. Hal ini banyak terjadi pada stadia pascalarva udang windu. Menurunnya kualitas lingkungan budidaya dan ketersediaan nutrisi pakan yang kurang merupakan faktor penyebab sehingga udang saat ini sering terserang penyakit yang dapat menyebabkan kematian massal (Siswanto, 2008).
Upaya pemenuhan permintaan udang yang terus meningkat mendorong petani membudidayakan udang windu secara intensif. Intensifikasi budidaya adalah kegiatan dimana budidaya sangat bergantung pada suplay pakan buatan dan memerlukan pemberian pakan yang intensif. Di sisi lain, kendala yang dihadapi untuk pemenuhan kebutuhan pakan adalah tingginya harga pakan. Menurut Haliman dan Dian (2005) kebutuhan pakan buatan pada budidaya udang berkisar dari 60-70% dari total biaya produksi.

Permasalahan harga pakan yang relatif mahal disebabkan oleh tingginya kandungan protein dalam pakan. Protein merupakan zat terpenting dari semua zat gizi yang diperlukan ikan karena merupakan zat penyusun dari sumber energi utama bagi ikan (NRC, 1997). Pada ikan protein lebih efektif digunakan sebagai sumber energi daripada karbohidrat (Furuichi, 1988). Hal ini disebabkan oleh rendahnya aktivitas enzim amilase dalam saluran pencenaan ikan dibandingkan dengan hewan terrestrial dan manusia. Oleh sebab itu, perlu dilakukan berbagai upaya agar penggunaan protein sebagai sumber energi dapat dikurangi dan pemanfaatan karbohidrat sebagai sumber energi dapat ditingkatkan. Protein diharapkan digunakan untuk pertumbuhan dan pergantian jaringan yang rusak, bukan sebagai sumber energi. Peningkatan penggunaan karbohidrat oleh udang diharapkan dapat meningkatkan kadar karbohidrat dan mengurangi kadar protein dalam komposisi pakan buatan.
Salah satu alternatif yang dapat dikaji dan dikembangkan melalui percobaan adalah dengan suplementasi kromium organik dalam pakan. Penelitian mengenai peran kromium pada beberapa spesies ikan seperti tilapia, gurame, betok, telah dilaporkan dengan menggunakan kromium organik, seperti CrCl3, CrCl3 6H2O, atau Cr2O3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kromium organik efektif meningkatkan pemanfaatan karbohidrat pakan (Shiau dan Chen, 1993; Shiau dan Lin, 1993; Shiau dan Liang, 1995; Shiau, 2002; Subandiono dkk.,2004; Akbar, 2009). Kromium trivalent (Cr+³) merupakan unsur mineral yang dibutuhkan manusia dan hewan. Unsur mineral tersebut berfungsi untuk mengaktifkan kerja insulin dan menstabilkan protein dan asam nukleat. Kromium trivalent memiliki tipe non toksik dan bersifat antioksidant (Anderson, 1997; NRC, 1997).
 Suplementasi kromium berhubungan dengan pemasukan (influx) glukosa hasil hidrolisis enzimatik karbohidrat pakan ke dalam darah dan selanjutnya masuk ke dalam sel. Peningkatan pemasukan glukosa ke dalam sel diharapkan dapat meningkatkan penggunaan karbohidrat sebagai sumber energi. Hal ini dapat diindikasikan oleh adanya penyimpanan glikogen di hepatopankreas dan otot udang windu. Di dalam otot, glikogen merupakan simpanan energi utama yang mampu membentuk hampir 2% dari total massa otot. Glikogen yang terdapat di dalam otot hanya dapat digunakan untuk keperluan energi di dalam otot tersebut dan tidak dapat dikembalikan ke dalam aliran darah dalam bentuk glukosa apabila terdapat bagian tubuh lain yang membutuhkannya. Berbeda dengan glikogen hati dapat dikeluarkan apabila terdapat bagian tubuh lain yang membutuhkan.
Penambahan kromium dalam pakan menyebabkan glukosa dapat segera dimanfaatkan sebagai sumber energi untuk memenuhi kebutuhan energi metabolisme. Sejauh mana pengaruh suplementasi kromium dalam pakan udang windu belum pernah dilakukan. Sehubungan dengan hal tersebut maka kami melakukan penelitian pengaruh pemberian berbagai kadar karbohidrat pakan dengan suplementasi kromium (Cr+3) terhadap deposit glikogen hepatopankreas dan otot gelondongan udang windu (pennaeus monodon).

Pengaruh Tingkat Subtitusi Tepung Ikan Dengan Tepung Maggot Terhadap Pertumbuhan Dan Kelangsungan Hidup Ikan Bandeng (Chanos Chanos Forsskal) (IKN-11)

Ikan bandeng (Chanos chanos Forsskal) termasuk komoditas unggulan di Sulawesi Selatan. Dinas Kelautan dan Perikanan Propinsi Sulawesi Selatan menargetkan peningkatan produksi ikan bandeng sekitar 71.147 ton pada 2013 dari produksi saat ini rata–rata 55.000 ton per tahun. Permintaan ikan bandeng dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan, baik untuk komsumsi lokal, ikan umpan bagi industri perikanan tuna cakalang, maupun untuk pasar ekspor. Prospek ekspor ikan bandeng Sulawesi Selatan terbuka lebar dengan tujuan ekspor ke Rusia, Singapura dan Timur Tengah yaitu sekitar 600 ton perbulan. Akan tetapi, peluang tersebut belum dapat terpenuhi karena terbatasnya produksi dan diikuti tingginya komsumsi lokal. Ikan bandeng sebagai komoditas ekspor harus mempunyai standar tertentu, yaitu ukuran sekitar 400 g/ekor, sisik bersih dan mengkilat, tidak berbau lumpur dan dengan kandungan asam lemak omega-3 yang tinggi akan dapat di penuhi dari hasil budidaya bandeng secara intensif dalam keramba jaring apung di laut (Anonimusa, 2010).
Dalam kegiatan budidaya secara intensif, pakan mempunyai peranan  penting dalam peningkatan produksi, yang mana biaya untuk pembelian pakan memberi kontribusi sekitar 60–80% dari total biaya produksi (Priyadi dkk., 2008). Khusus di Indonesia, sebagian besar bahan baku pakan berasal dari impor, yaitu sekitar 70–80% (Hadadi dkk., 2007). Harga bahan baku pakan akan berpengaruh terhadap harga pakan yang selanjutnya akan berpengaruh terhadap biaya produksi.

Tepung ikan merupakan bahan baku utama sumber protein dalam pakan ikan. Saat ini produksi tepung ikan lokal baru dapat memenuhi 60–70 % dari kebutuhan dengan kualitas dan kuantitas yang berfluktuaktif. Oleh sebab itu, diperlukan penelitian yang mendalam terhadap berbagai bahan baku alternatif pengganti tepung ikan, yakni salah satunya, tepung maggot atau tepung serangga bunga (Hermetia illucens). Bahan ini dapat di produksi secara massal, bahan ini juga memenuhi kandungan nutrisi dan tidak menjadikan harga pakan tinggi yaitu hanya Rp. 1.500,- per kg dibanding tepung ikan impor Rp. 15.000,- per kg dan lokal harganya sekitar Rp. 12.000,- per kg (Hadadi dkk., 2007). Harga pakan saat ini mencapai Rp. 7000 sampai Rp. 7500 per kg, sementara harga pakan berbahan baku maggot dengan kandungan protein sekitar 25-30% hanya Rp. 3500 per kg (Anonimusb, 2010).
Penelitian pemanfaatan tepung magot sebagai sumber protein sebagai pengganti tepung ikan telah di lakukan oleh beberapa peneliti. Hasil pelelitian Retnosari (2007) pada benih ikan nila menunjukkan bahwa subtitusi tepung ikan oleh tepung magot sebesar 55% (kadar protein 30,45%), 65% (kadar protein 30,22%), 85% (kadar protein 27,64%) dan 95% (kadar protein 26,35%) menghasilkan pertumbuhan benih ikan nila yang tidak berbeda. Hal ini diduga karena kadar protein yang dihasilkan masih dalam rentang layak kebutuhan benih ikan nila.
Informasi tentang kemungkinan dapat dimanfaatkannya tepung maggot sebagai pengganti sumber protein asal tepung ikan pada budidaya ikan bandeng dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan dan sintasan sampai saat ini belum ada, oleh karena itu penelitian ini perlu dilakukan.

Thursday, February 14, 2013

Contoh Skripsi Perikanan

Perikanan adalah kegiatan manusia yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya hayati perairan. Sumberdaya hayati perairan tidak dibatasi secara tegas dan pada umumnya mencakup ikan, amfibi dan berbagai avertebrata penghuni perairan dan wilayah yang berdekatan, serta lingkungannya. Di Indonesia, menurut UU RI no. 9/1985 dan UU RI no. 31/2004, kegiatan yang termasuk dalam perikanan dimulai dari praproduksi, produksi, pengolahan sampai dengan pemasaran, yang dilaksanakan dalam suatu sistem bisnis perikanan.


Download Contoh Skripsi Perikanan Lengkap ini ditujukan buat Mahasiswa tingkat akhir yang masih bingung dalam menentukan judul skripsinya dan cara membuat skripsi yang baik, Khususnya bagi Mahasiswa yang belum mengajukan judul. Banyak contoh-contoh skripsi bertebaran di internet, tapi kebanyakan dari contoh skripsi yang tersedia di internet kebanyakan tidak lengkap dan setengah-setengah. Artinya tidak lengkap dari BAB awal sampai BAB terakhir, sehingga contoh skripsi yang kita terima menjadi tanggung. Daftar judul skripsi perikanan yang kami tampilkan lengkap mulai bab 1 s.d. daftar pustaka.

Contoh Judul Skripsi Perikanan Lengkap ini dalam format MS Word dan bukan PDF. Hal ini untuk memudahkan agar bisa digunakan sebaik mungkin. Dan Jadikan contoh skripsi yang saya share ini sebagai REFERENSI anda dalam membuat skripsi.


Contoh Skripsi Perikanan bisa dilihat disini.


Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Potensi Penggunaan Zooxanthella Pada Kima Tridacna Derasa Sebagai Bioindikator Pencemaran Logam Timbal (Pb) (IKN-10)

Dewasa ini perkembangan industri di berbagai daerah sangat cepat. Dalam kenyataanya industri ini akan menghasilkan limbah yang terdiri dari bahan-bahan kimia. Limbah ini baik secara langsung ataupun tidak langsung akan masuk ke dalam badan perairan. Pada saat ini telah ditemukan sekitar lima juta jenis bahan kimia, dan 60.000 diantaranya telah diperjual belikan secara bebas (Lestari dan Edwar, 2004). Di antaranya terdapat bahan kimia yang berbahaya dan beracun, salah satunya adalah logam Pb (Amin, 2002). Masuknya Pb kedalam perairan dapat mengakibatkan pencemaran bagi perairan (Nganro, 2009).
Logam Pb merupakan polutan di laut yang sangat berbahaya (Rompas, 2010). Salah satu sumber Pb berasal dari bahan bakar minyak dari perahu-perahu nelayan. Di dalam bahan bakar ini terdapat alkil timbal Logam bersifat tidak dapat diurai dan mudah terakumulasi dalam biota laut. Logam ini masuk kedalam tubuh biota laut melalui insang, permukaan tubuh dan juga rantai makanan (Johari, 2009). Logam pada ekosistem terumbu karang akan menyebabkan terhambatnya pertumbuhan, meningkatnya mortalitas, penurunan laju metabolisme serta menurunkan kemampuan reproduksi biota laut (Nganro, 2009).

Biota perairan sangat beragam kemampuannya dalam mentoleransi unsur logam. Pada organisme tertentu mempunyai kemampuan untuk mengontrol jumlah racun melalui sistem pengeluaran, sedangkan organisme yang lain tidak mempunyai mekanisme tersebut. Organisme yang tidak mampu mengontrol kandungan racunnya akan mengakumulasi pollutan dalam tubuhnya. Salah satu organisme yang mengakumulasi logam adalah bivalvia termasuk Tridacna (Sitorus, 2008).
Zooxanthella merupakan simbion alga yang bersifat fotosintetik dan uniseluler (Trench, 1979), yang hidup pada jaringan mantel kima. Zooxanthella mendapatkan suplai karbondioksida dan senyawa-senyawa yang berasal dari jaringan mantel. Hasil fotosintesis dari zooxanthella ini berupa senyawa gula sederhana juga protein dan lemak yang dimanfaatkan oleh kima untuk tumbuh dan berkembang (Jafar,1999).
Respon hilangnya zooxanthella lebih sensitive terhadap pemaparan pencemaran logam  di perairan dibanding  parameter lainnya seperti kematian serta kerusakan jaringan dan karenanya merupakan indikator potensial dalam bioassay (Brown, 1988).
Berdasarkan adanya risiko terakumulasinya logam Pb pada Tridacna dan keluarnya zooxanthella, maka perlu diadakan penelitian tentang sensitivitas zooxanthella pada Tridacna derasa yang dipapar dengan logam Pb pada berbagai konsentrasi.
 Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Respon Biologis Pakan Buatan Yang Menggunakan Beberapa Sumber Tepung Rumput Laut (Eucheuma Spp) Pada Pakan Ikan Nila Gift (IKN-9)

Rumput laut merupakan hasil laut yang tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Untuk ekspor rumput laut, Indonesia cukup baik dan permintaan pasar Internasional tiap tahun cukup tinggi, bahkan 5-6 tahun yang lalu produsen dalam negeri sempat kewalahan dalam memenuhi permintaan ekspor yang terus meningkat mengingat kebutuhan dunia terhadap rumput laut yang semakin tinggi, karena saat ini rumput laut tidak terbatas hanya sebagai makanan saja, tetapi sudah digunakan sebagai bahan baku pada industri obat-obatan, kosmetik, tekstil, minuman, makanan kaleng, kerupuk dan lain-lain (Anonim, 2003)
Pemanfaatan rumput laut semakin berkembang ke arah komersil dan diekspor sebagai bahan mentah untuk pembuatan agar-agar atau karagenan (Sulistijo, dkk. 1977). Selanjutnya rumput laut memiliki berbagai macam manfaat  antara lain sebagai bahan makanan, obat-obatan, bahan kosmetik dan sebagai bahan perekat.
Beberapa bahan baku yang dapat dipakai sebagai bahan perekat pakan yaitu gandum, tepung terigu, dedak halus dan tepung rumput laut (Ahmad, 2004). Selanjutnya dikatakan bahwa bahan perekat yang tidak mengandung nutrisi, seperti karboksimetil selulosa (CMC), dan beberapa macam getah.

Rumput laut salah satu bahan perekat yang dapat dimanfaatkan dalam pembuatan pakan. Tepung rumput laut dapat dimanfaatkan sebagai binder pada ikan (Murtidjo, 2003).
Pemanfaatan rumput laut sebagai binder pakan kultivan telah dilakukan oleh beberapa peneliti. Sapanglangi (2008) menemukan bahwa tepung rumput laut jenis Gracilaria gigaslebih baik dibanding dengan Eucheuma spinosum dan Eucheuma spp sebagai bahan perekat pada pakan udang windu. Dosis tepung Gracilaria gigas yang terbaik bagi pakan udang windu adalah 9% (Salam, 2008), sedangkan tepung Eucheumaspp 3-9% baik untuk pakan udang windu (Suharni, 2009). Walaupun hasil studi tersebut memberikan peluang penggunaan rumput laut sebagai binder pakan kultivan, namun hal yang masih perlu dipertimbangkan sebelum diaplikasikannya secara massal adalah harga rumput laut yang tinggi dan akan berkonsekuensi pada harga proses penyediaan pakan yang tinggi pula. Meskipun studi tersebut belum dianalisis ekonomi. Upaya untuk menekan biaya binder rumput laut dapat menggunakan limbah industri rumput laut.
Eucheuma spp dipakai dalam penelitian ini karena Eucheuma spp merupakan penghasil karagenan dan kegunaan dari karagenan ini hampir sama dengan agar-agar antara lain sebagai penghantar keseimbangan bahan pengental, pembentuk gel dan pengemulsi. Eucheumaspp selain mudah diperoleh rumput laut ini dapat membentuk gel yang kuat (Anggadiredja, 2006).
Studi pengembangan binder rumput laut pada ikan ekonomis juga penting. Salah satunya adalah ikan nila gift. Ikan nila gift memiliki beberapa kelebihan sebagai spesies kultivan potensil dibanding nila lokal di antaranya pertumbuhannya 300-400% lebih cepat, lebih tahan terhadap lingkungan kurang baik, efesiensi pakan yang lebih tinggi (Rukyani dan Subagyo, 2001). Ahmad (2004) telah melaporkan pula penggunaan binder rumput laut pada pakan ikan bandeng.

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Status Ekologi Kepadatan Predator Karang Acanthaster Planci Linn Kaitannya Dengan Kondisi Terumbu Karang Di Perairan Tomia Taman Nasional Wakatobi (IKN-8)

Indonesia sebagai Negara kepulauan memiliki terumbu karang (coral) dengan luas kurang lebih 60.000 km2.  Terumbu­ karang merupakan biota laut yang berkembangbiak dengan cara tunas dan pembuahan merupakan aset alam yang banyak diminati.  Potensi sumberdaya alam kelautan ini tersebar di seluruh Indonesia mengemban beragam nilai dan fungsi, antara lain nilai rekreasi (wisata bahari), nilai iproduksi (sumber bahan pangan dan ornamental) dan nilai konservasi (sebagai pendukung proses ekologis dan penyangga kehidupan       di daerah pesisir, sumber sedimen pantai dan melindungi pantai dari ancaman abrasi) (Fossa dan Nilsen, 1996).
            Wakatobi sebagai Taman Nasional ditunjuk berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan No. 393/Kpts-VI/1996 tanggal 30 Juli 1996 dan di tetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan No.7651/Kpts-II/2002 tanggal 19 Agustus 2002 dengan luasan 1.390.000 Ha.  Penunjukan dan penetapan kawasan Taman Nasional Wakatobi  sebagai Taman Nasional konservasi laut   di Indonesia berdasar atas potensi keanekaragaman hayati yang tinggi, khususnya ekosistem terumbu karang, padang lamun dan mangrove.

              Dalam rangka menjaga keutuhan dan kelestarian ekosistem terumbu karang di Taman Nasional Wakatobi dan sekaligus memberikan manfaat optimal bagi pemanfataan secara berkelanjutan khususnya dalam dua sektor yang menjadi andalan Pemerintah Kabupaten Wakatobi yaitu perikanan dan pariwisata bahari, maka perlu dilakukan upaya-upaya terpadu khususnya dalam penanggulangan gangguan, baik yang disebabkan oleh perikanan yang merusak dan gangguan alami akibat telah terjadinya ketidakseimbangan alam yang menyebabkan meledaknya populasi bintang laut berduri (Acanthaster planci)     di perairan laut Wakatobi  (Balai Taman Nasional Wakatobi, 2007).
Acanthaster planci atau biasa dikenal sebagai Crown of Thorns Starfish merupakan salah satu jenis bintang laut raksasa dengan jumlah duri yang banyak sekali, merupakan hewan pemakan karang. Hewan ini tersebar diberbagai perairan yang di tumbuhi oleh beberapa jenis karang.
Kepadatan populasi A. planci di daerah terumbu karang akan memberikan dampak negatif bagi kehidupan karang.  Bukan hanya terumbu karang di Indonesia yang mengalami kerusakan, tapi berbagai wilayah perairan yang ada di dunia, seperti yang terjadi di Great Barrier Reef tahun 1981-1989 yang menyebabkan rusaknya karang sekitar 60% (Lucas, 1990). 
Kehadiran A. planci dalam batasan populasi normal merupakan hal yang umum di ekosistem terumbu karang.  Jika kepadatan populasi lebih dari 14 individu/1000 m2, maka keberadaannya sudah mengancam terumbu karang (Endean, 1987).  Kondisi ini menunjukan bahwa fenomena kehadiran A. planci sudah ekstensif di beberapa perairan di Indonesia. Olehnya itu kehadiran pemangsa karang ini perlu terus dipantau sebagai dasar dalam suatu pengambilan tindakan pengelolaan.

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Strategi Pengembangan Usaha Budidaya Ikan Kerapu ( Epinephelus Spp) Pada Keramba Jaring Apung (Studi Kasus Di Teluk Ambon Kota Ambon (IKN-7)

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia terdiri dari gugusan pulau-pulau sebanyak 17.508 dengan luas perairan laut Indonesia diperkirakan sebesar 5,8 juta km2 dan panjang garis pantai 95.181 km, keadaan yang demikian menyebabkan Indonesia banyak memiliki potensi yang cukup besar di bidang perikanan, mulai dari prospek pasar baik dalam negeri maupun internasional.
Subsektor perikanan merupakan salah satu subsektor pembangunan yang memiliki peranan yang cukup strategis dalam perekonomian nasional, bahkan subsektor ini merupakan salah satu subsektor penerimaan devisa negara yang penting.  Pembangunan perikanan sebagai bagian dari pembangunan nasional, diarahkan untuk mendukung tercapainya tujuan dan cita-cita luhur bangsa Indonesia dalam mewujudkan masyarakat adil dan makmur.  Harapan untuk menjadikan subsektor ini sebagai pendukung dalam pencapaian tujuan tersebut didasarkan pada potensi perikanan laut yang dimiliki.
Kekayaan Indonesia berupa sumberdaya perikanan yang sangat luas menjadi modal dasar dalam pembangunan nasional sekaligus memiliki potensi yang sangat besar bagi pembangunan kelautan dan perikanan.  Melihat potensi tersebut, usaha bisnis perikanan di Indonesia menunjukkan masa depan yang sangat baik.  Terutama bila dilihat dari data permintaan ekspor dari tahun ke tahun semakin meningkat. Sesuai dengan visi Departemen Kelautan dan Perikanan yaitu Indonesia penghasil produk kelautan dan perikanan terbesar 2015, dan misi DKP yaitu, Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Kelautan dan Perikanan, serta sasaran strategi DKP, yitu: 1) Memperkuat kelembagaan dan SDM secara terintegrasi; 2) Mengelola sumberdaya kelautan dan perikanan secara berkelanjutan; 3) Meningkatkan produktivitas dan daya saing berbasis pengetahuan; 4) Memperluas akses pasar domestik dan internasional (DKP, 2009), dan kebijakan dirjen Perikanan Budidaya adalah program intensifikasi pembudidayaan ikan atau INBUDKAN. Salah satu program pembangunan perikanan budidaya, yaitu menitikberatkan pada INBUD kerapu selain udang, nila dan rumput laut. maka melalui usaha budidaya laut khususnya komoditas ikan kerapu, diharapkan akan mempercepat upaya pemulihan ekonomi terutama untuk meningkatkan perolehan devisa negara dari hasil eksport.

Komoditas ikan laut jenis kerapu merupakan komoditas andalan dan permintaan dari pasar eksport (Singapura dan Hongkong) dari tahun ketahun terus meningkat.  Salah satu jenis ikan yang memiliki prospek cerah untuk dibudidayakan adalah ikan kerapu.  Ikan kerapu tikus  (Cromileptes altivelis) merupakan salah satu jenis ikan yang memiliki nilai ekonomis tinggi serta memilih peluang pasar dalam dan luar negeri yang sangat baik.  Ikan kerapu ini sudah menjadi menu istimewa di hotel dan restoran terkemuka, baik di Indonesia, Hongkong, Taiwan, Jepang maupun Singapura.  Permintaan pasar internasional akan ikan kerapu yang cenderung terus meningkat, memberikan peluang besar bagi Indonesia untuk meningkatkan hasil tangkapannya (Kordi, 2001).
Selain mendorong pertumbuhan ekspor, pengembangan budidaya kerapu juga menjadi elternatif solusi dalam permasalahan penurunan populasi di alam akibat penangkapan yang intensif dan kerusakan terumbu karang sebagai habitat ikan kerapu (Sudirman, 2008)
Dari berbagai penelitian, diperoleh data potensi lestari sumberdaya perikanan laut Indonesia sebesar 6,4 juta ton pertahun. Termasuk di dalamnya ikan demersal sebesar 1,36 juta ton dan ikan karang sebesar 145 ribu ton. Penangkapan yang diperbolehkan adalah 80 persen dari potensi lestari atau sekitar 5,12 juta ton per tahun. (Nikujuluw 2002).
Wilayah perairan kota Ambon memiliki sumberdaya perikanan yang sangat potensial ditinjau dari besaran stok maupun peluang pemanfaatan dan pengembangannya. Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian dan analisis terhadap kelimpahan stok potensi lestari. Wilayah perairan laut Kota Ambon memiliki salah satu komoditi perikanan tergolong potensial untuk dikembangkan yaitu sumberdaya ikan demersal, komoditi perikanan penting ini tersebar diseluruh wilayah ekologis perairan pesisir dan laut Kota Ambon.
Perairan kota Ambon memiliki potensi kelautan dan perikanan yang sangat diandalkan. Potensi berupa perikanan tangkap meliputi luas wilayah laut 136.116.1 Km2 dengan panjang garis pantai 1.256.230 Km2 dari luas wilayah 147.480.6 Km2. Potensi sumber daya ikan yang dimiliki sebesar 484.532 ton/tahun dengan jumlah tangkapan yang diperbolehn (JBT) sebesar 387.324 ton/tahun. Potensi tersebut baru dimanfaatkan sebesar 41.307.1 ton/tahun. (BPMD prop. Maluku, 2007)
Perairan kota Ambon dengan substrat lumpur berpasir dan mempunyai kawasan terumbu karang dengan luas 1.667,4 Ha (baik 1.202 Ha dan rusak 469,8 Ha) merupakan daerah penangkapan ikan demersal dan ikan karang yang potensial seperti jenis kakap merah (Prestoporoides), lencam (Lethrinudae) ekor kuning, pisang-pisang (Coesionidae), baronang dan jenis-jenis kerapu seperti kerapu sunu (Plectropomus spp), napolleon wrase, kerapu bebek (Cromileptes altivelis) dan kerapu lumpur/balong/estuary grouper (Epinephelus spp). Pada tahun 2004 produksi ikan kerapu yang dicapai sebesar 352,56 ton dimana tingkat pemanfaatannya masih kecil sehingga peluang untuk investasi masih sangat terbuka. (BPMD prop. Maluku, 2007)
Berkembangnya pasaran ikan kerapu hidup karena adanya perubahan selera konsumen dari ikan mati atau beku kepada ikan dalam keadaan hidup, telah mendorong masyarakat untuk memenuhi permintaan pasar ikan kerapu melalui usaha budidaya. ikan kerapu (Epinephelus spp.) telah dilakukan dibeberapa tempat di Indonesia, namun dalam proses pengembangannya masih menemui kendala, karena keterbatasan benih.
Dari informasi pasar diketahui permintaan kerapu baik ukuran kecil sebagai ikan hias maupun ukuran konsumsi terus meningkat.  Kerapu tikus ukuran kecil       (4 – 5 cm) laku dijual dengan harga Rp 7000/ekor, sedangkan ukuran konsumsi dengan berat 400 – 500 gram/ekor laku dijual di pasar lokal dengan harga tahun 2000 sekita Rp 250.000 – Rp 300.000/Kg, bahkan untuk pasar ekspor seperti Hongkong, Taiwan dan Cina harga kerapu ukuran konsumsi sekitar US$ 55/Kg (Akbar dan Sudaryanto, 2002).
Perdagangan ikan kerapu khususnya untuk tujuan ekspor sudah berjalan cukup lama, dengan mengandalkan pasokan dari hasil tangkapan. Hal ini telah mendorong intensitas eksploitasi penangkapan ikan kerapu dengan berbagai cara, sehingga seringkali berpotensi merusak terumbu karang yang  merupakan habitat alami ikan kerapu.  Menyadari fenomena meningkatnya kerusakan terumbu karang yang dapat mengancam kelestarian stok ikan di alam serta untuk menjaga kontinyuitas pasokan ikan kerapu hidup khususnya untuk tujuan ekspor.  Pemerintah telah membuat kebijakan untuk mengembangkan teknologi budidaya ikan kerapu yang meliputi perbenihan (hatchrey) di bak kontrol dan pembesaran pada Keramba Jaring Apung (KJA).
Pada konteks inilah yang menarik perhatian penulis untuk melakukan penelitian yang berkaitan dengan “Strategi Pengembangan Usaha Budidaya Ikan Kerapu (Epinephelus spp) Pada Keramba Jaring Apung (Studi Kasus di Teluk Ambon Kecamatan Baguala Kota Ambon)”.

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Struktur Komunitas Fitoplankton Pada Ekosistem Padang Lamun Di Pulau Kapoposang Dan Di Pulau Sarappokeke Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan (IKN-6)

Plankton adalah suatu mikroorganisme yang terpenting dalam ekosistem perairan dan hidupnya melayang dalam air, kemudian dikatakan bahwa plankton merupakan salah satu organisme yang berukuran kecil dimana hidupnya terombang-ambing oleh arus perairan laut (Hutabarat dan Evans, 1988). Sedangkan menurut Nyabakken (1992), plankton adalah kelompok-kelompok organisme yang hanyut bebas dalam laut dan daya renangnya sangat lemah. Kemampuan berenang organisme-organisme planktonik demikian lemah sehingga mereka sama sekali dikuasai oleh gerakan air, hal ini berbeda dengan hewan laut lainnya yang demikian gerakan dan daya renangnya cukup kuat untuk melawan arus laut.
Peranan plankton terhadap kehidupan fauna (ikan dan avertebrata) pada ekosistem lamun sangat penting, yaitu sebagai transport materi, energi dan rantai makanan. Dalam ekosistem padang lamun, rantai makanan tersusun dari tingkatan-tingkatan trofik yang mencakup proses dan pengangkutan detritus organik dari ekosistem lamun ke konsumen yang lain, yang sumber energi utama adalah cahaya matahari yang digunakan organisme autotrof seperti lamun dan fitoplankton sebagai produsen untuk berfotosintesis (Haris Pramana, 2001).

Pulau Sarappokeke dan pulau Kapoposang merupakan pulau yang terletak di perairan kepulauan Spermonde yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan. Kedua pulau memiliki ekosistem padang lamun cukup luas. Saat ini belum ada penelitian tentang potensi perikanan padang lamun di pulau tersebut. Amri dan Priosambodo (2007) menjelaskan hasil dari ekspedisi dan penelitiannya di wilayah pesisir dan laut kabupaten Pangkep yaitu bahwa Kepadatan lamun di pulau Sarappokeke mencapai sekitar kurang lebih 2.151, 025 tegakan/m2, dimana jenis lamun yang ditemukan di pulau Sarappokeke sebanyak 4 dari 3 genera, yaitu Enhalus acoroides, Cimodocea rotundata, Halophila uninervis dan Halophila ovalis. Sedangkan kepadatan jenis lamun pulau Kapoposang yang ditemukan mencapai sekitar kurang lebih 4.583 tegakan/m2, dimana jumlah jenis lamun yang ditemukan di pulau sebanyak 6 jenis dari 5 genera, yaitu Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Halodule uninervis, Halophila minor dan Halophila ovalis. Akan tetapi informasi tentang lokasi tutupan lamun tertinggi pada kedua wilayah ini belum dijelaskan Amri dan Priosambodo (2007).  Amri dan Priosambodo (2007) hanya membagi ke dua wilayah tersebut kedalam 4 arah mata angin (utara, selatan, barat, dan timur).  Padahal Kondisi tutupan lamun di sepanjang perairan pantai kedua pulau tersebut sangat bervariasi.   Sementara informasi tentang kelimpahan plankton pada ekosistem padang lamun di kedua pulau ini belum banyak diteliti. Oleh karena itu, penelitian ini perlu dilakukan.

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Studi Kebiasaan Makanan Beberapa Jenis Ikan Penting Menurut Indeks Dominan Dan Biomassa Di Padang Lamun Pulau Kapoposang Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan (IKN-5)

Indonesia memiliki wilayah laut yang cukup luas, dengan potensi sumberdaya melimpah, menempatkan sektor perikanan menjadi bidang berprospek cerah untuk dikembangkan secara professional. Pembangunan perikanan termasuk budidaya laut perlu dikembangkan, demikian halnya infrastruktur pendukung serta kualitas sumberdaya manusianya yang senantiasa harus ditingkatkan agar potensi sumberdaya perikanan yang dimaksud dapat dimanfaatkan dengan tepat dan ditunjang oleh kelestarian daya dukungnya. Pembangunan perikanan juga ditujukan untuk terwujudnya industri perikanan mandiri melalui usaha yang mantap dalam pengelolaan, penangkapan, budidaya laut, pengolahan, dan pemasaran sesuai dengan potensi lestari sekaligus inventarisasi sumberdaya alam sebagai keunggulan kompetitif yang komparatif (Haeruman, 2000).
Wilayah pesisir dan laut Sulawesi Selatan terbentang sepanjang 1979,97 km garis pantai dengan luas perairan laut diperkirakan tidak kurang dari 48.000 km2, yang mencakup kawasan laut, yakni selat Makassar, laut Flores, dan teluk Bone serta hamparan pulau-pulau kecil dan kawasan kepulauan Spermonde dan kawasan kepulauan Takabonerate. Sumberdaya yang dikandungnya sangat beragam, seperti sumberdaya hayati (berbagai jenis ikan, crustacea, molusca, karang, lamun, rumput laut, mangrove) dan non hayati (pasir putih, tambang, mineral dan lain-lain) (Haeruman, 2000).

Salah satu ekosistem yang cukup luas di lingkungan perairan laut dangkal adalah padang lamun. Disamping mempunyai produktivitas biologis yang tinggi dari padang lamun, kekayaan ikan juga terkonsentrasi di padang lamun. Padang lamun memiliki distribusi cukup luas pada daerah tropik, lingkungan ini salah satu tempat yang disukai sebagai tempat berlindung, ruang hidup dan tempat mencari makan bagi beranekaragam jenis biota termasuk ikan (Haeruman, 2000).
Lamun (seagrass) adalah tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang dapat tumbuh dengan baik dalam lingkungan laut dangkal (Wood et al, 1969).Semua lamun adalah tumbuhan berbiji satu (monokotil) yang mempunyai akar rimpang (rhizoma), daun, bunga dan buah seperti halnya dengan tumbuhan berpembuluh yang tumbuh di darat (Tomlinson, 1974). Jadi sangat berbeda dengan rumput laut (algae).
Ada sekitar 50 jenis lamun yang ditemukan di dunia yang tumbuh pada perairan laut dangkal yang berdasar lumpur atau pasir. Lamun ini terdiri dari dua suku (famili) yaitu suku Potamogetonacea (9 marga, 35 jenis) dan suku Hydrochoraticea (3 marga, 15 jenis) (Den Hartog 1970; Phillips & Menez 1988). Dari 50 jenis lamun tersebut, ada 12 jenis yang telah ditemukan di Indonesia yaitu Syringodium isoetifolium, Halophila ovalis, Halophila spinulosa, Halophila minor, Halophila decipiens, Halodule pinifolia, Halodule uninervis. Thalasso Dendron ciliatum, Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulata, Thalassia hemprichii dan Enhalus acoroides. Satu spesies lagi yang baru ditemukan di kepulauan Spermonde yaitu Halophilia sulawesi. Spesies yang paling sering ditemukan di perairan indonesia yaitu jenis spesies Thalassia dan Enhalus (Den Hartog, 1970).
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan (Nagelkerken et al, 2000) melaporkan bahwa beberapa spesies ikan menggunakan daerah lamun dan mangrove sebagai daerah asuhan tempat membesarkan juvenile (nursery ground). Kelimpahan dan kekayaan jenis (species richness) tertinggi ditemukan di daerah padang lamun dan daerah berlumpur yang sekelilingnya ditumbuhi oleh vegetasi mangrove.
Banyak studi telah dilakukan baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif tentang padang lamun di beberapa daerah di penjuru dunia, khususnya di daerah pulau yang berada di wilayah Indonesia sendiri. Penelitian semacam ini masih sangat minim.
Masyarakat yang berada di sekitar Kepulauan Kapoposang Sebagian besar merupakan suku Bugis, yang cukup menyadari akan arti pentingnya lingkungan hidup. Indikasi hal tersebut, terlihat dengan masih utuhnya karang-karang di Kepulauan Kapoposang dan larangan penangkapan ikan menggunakan bahan peledak oleh pemuka agama setempat. Bulan-bulan yang berbahaya untuk melakukan pelayaran di Kepulauan Kapoposang adalah pada bulan Desember sampai dengan Januari setiap tahunnya, dimana masyarakat setempat menamakan bulan tersebut sebagai bulan “janda”.
Daerah lamun Pulau Kapoposang cukup baik, karena selain penduduknya yang kurang, daerah padang lamunnya masih dijaga dengan baik oleh masyarakat di daerah tersebut, sehingga ikan–ikan yang tinggal maupun yang mencari makan akan sangat mudah mendapatkan makanan dan ikan- ikannya pun dapat hidup dengan tenang.
Keberadaan ikan-ikan tersebut perlu dijaga kelestariannya, terutama jenis-jenis ikan penting yang hidup di daerah padang lamun. Selain menjaga kelestariannya juga perlu adanya pengelolaan salah satunya informasi mengenai aspek biologi beberapa jenis ikan penting ini, terutama dalam hal kebiasaan makanan, sehingga penelitian ini perlu dilakukan

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Studi Kelayakan Pengembangan Pangkalan Pendaratan Ikan Cempae Kecamatan Soreang Kota Parepare Sulawesi Selatan (IKN-4)

Tujuan pembangunan perikanan menurut pasal 3 UU No.31 tahun 2004 adalah (1) meningkatkan taraf hidup nelayan kecil dan pembudidayaan ikan (2) meningkatkan penerimaan dan devisa negara (3) mendorong perluasan dan kesempatan kerja (4) meningkatkan ketersediaan dan konsumsi sumber protein hewani (5) mengoptimalkan pengelolaan sumberdaya ikan (6) meningkatkan produktifitas mutu, nilai tambah dan daya saing (7) meningkatkan ketersediaan bahan baku untuk industri pengolahan ikan (8) pemanfaatan sumberdaya perikanan secara optimal (9) menjamin kelestarian sumberdaya ikan, lahan pembudidayaan ikan dan tata ruang.
Untuk mencapai tujuan pembangunan perikanan tersebut salah satu hal yang paling penting diperhatikan adalah pembangunan prasarana.  Khusus untuk perikanan tangkap prasarana yang dimaksud adalah “Pelabuhan Perikanan” yang berfungsi sebagai sarana penunjang peningkatan produksi. Mengingat betapa pentingnya pembangunan prasarana pelabuhan maka di dalam undang-undang perikanan dinyatakan bahwa pemerintah berkewajiban membangunnya, dan telah direalisasikan di berbagai tempat di Indonesia.

Propinsi Sulawesi Selatan dengan luas wilayah 62.483 km2 dengan panjang garis pantai 2500 km memiliki penduduk 8.213.864 jiwa dimana kurang lebih 475.902 jiwa bekerja sebagai nelayan dan petani tambak serta menurut laporan Dinas Perikanan dan Kelautan data produksi perikanan dan kelautan  di tahun 2010 mencapai 1.865,098,5 ton atau meningkat 30,6 persen dibandingkan dari tahun 2008 yang sebesar  1.093.367,3 ton. Hasil pembangunan kelautan dan perikanan  Sulawesi Selatan tiga tahun terakhir ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan.
Nilai Produksi Perikanan laut dan darat di Kabupaten Pare-pare;
Produksi subsektor perikanan darat dari tambak 41.6 ton sedangkan laut 43.302 ton. Nilai produksi perikanan laut sebesar Rp 19.708.000,-Perikanan darat yang terdiri dari tambak air payau sebesar Rp 1.279.750,- Luas areal pemeliharaan ikan menggunakan tambak dengan luas kotornya 675 ha dan luas bersih 620 ha.
Jumlah produksi yang  cukup tinggi ditunjang oleh Sembilan belas Pusat Pendaratan Ikan (PPI) (ada diantaranya yang sementara dalam perampungan pembangunannya seperti Pelabuhan Perikanan Nusantara Untia di Makassar) dan ratusan lokasi pendaratan ikan  tradisional.  Analisis pengembangan sarana dan prasarana perikanan tangkap di Propinsi Sulawesi Selatan yang dilakukan oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Sulawesi Selatan bekerja sama dengan Tim Ahli dari Universitas Hasanuddin tahun 2005 menyimpulkan bahwa untuk lebih mengoptimalkan peran pelabuhan perikanan dalam rangka peningkatan produksi maka perlu peningkatan/pengembangan pelabuhan perikanan di setiap Kabupaten dalam lingkup Propinsi Sulawesi Selatan
Strategi pengembangan pelabuhan dapat dilakukan dengan pendekatan berdasarkan: 1) Potensi sumberdaya perikanan laut  2) Daerah penangkapan ikan dan  3) Kondisi sosial ekonomi.  Pendekatan ini diperlukan agar daerah yang akan mengembangkan pelabuhan perikanan dapat berfungsi secara optimal.
       Kota Parepare terletak antara 3o 57 39 – 4o04 49 LS dan 119o 36 24 – 119o43 40 BT. Daerah ini terletak pada daerah pantai yang memiliki potensi perikanan yang cukup besar dan mempunyai peluang untuk pengembangan pengolahan hasil usaha penangkapan ikan laut, lebih dari itu merupakan sentra perdagangan hasil perikanan utamanya yang berasal dari Kabupaten Pinrang dan baru.
 Tempat pendaratan ikan yang ada di Sulawesi Selatan adalah di Kota Parepare yang mempunyai peran penting dalam memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap produk perikanan bermutu tinggi, peningkatan taraf hidup nelayan dan peningkatan pendapatan daerah.
Melihat kondisi tersebut, perlu untuk diadakan penelitian mengenai evaluasi pengembangan fasilitas pangkalan pendaratan ikan Kota Parepare guna menunjang kegiatan nelayan yang ada di daerah Sulawesi Selatan untuk masa yang akan datang dan secara khusus di Kota Parepare.

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Variabilitas Hasil Tangkapan Jaring Insang Tetap Hubungannya Dengan Kondisi Oseanografi Di Perairan Kab Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara (IKN-3)

Kabupaten Kolaka Utara memiliki luas wilayah daratan sebesar 3.391 km2 dan wilayah perairan laut diperkirakan seluas ± 5.000 km2, dengan jumlah  penduduk  sebesar 113.317 jiwa. Berdasarkan kondisi iklim, Kabupaten Kolaka Utara mempunyai ketinggian umumnya kurang dari 1.000 meter dari permukaan laut dan berada di sekitar daerah khatulistiwa maka daerah ini beriklim tropis. Suhu udara minimum sekitar10°C dan maksimum 31°C atau rata-rata antara 24°C - 28°C. Sebagian besar penduduk memiliki mata pencaharian sebagai petani dan nelayan, namun demikian perairan laut seluas ± 5.000 belum dimanfaatkan secara optimal untuk kegiatan usaha perikanan.
Kabupaten Kolaka Utara memiliki perairan laut yang luas mencapai  ± 5.000 km2. Perairan ini belum dimanfaatkan secara optimal, khususya untuk kegiatan usaha perikanan. Memanfaatkan potensi perikanan tangkap di Kabupaten Kolaka Utara membutuhkan informasi lokasi potensi penangkapan ikan, dimana lokasi potensi penangkapan ikan berkaitan dengan ketersediaan ikan untuk penangkapan.  Alasan utama sebagian spesies ikan berada di suatu perairan disebabkan 3 hal pokok, yaitu: (1) memilih lingkungan hidupnya yang sesuai dengan kondisi tubuhnya; (2) mencari sumber makanan; (3) mencari tempat yang cocok untuk pemijahan dan perkembangbiakan (Nomura dan Yamazaki 1977; Laevastu dan Hayes 1981). Hal pokok tersebut akan menentukan keberhasilan suatu operasi penangkapan.     

            Respon ikan terhadap perubahan kondisi lingkungan menyebabkan sumberdaya ikan terdistribusi secara terbatas di perairan laut.  Kondisi ini mengindikasikan bahwa ketersediaan ikan pada suatu lokasi penangkapan akan menentukan besarnya produksi ikan, menyebabkan produksi ikan dari suatu jenis alat tangkap tidak akan sama pada setiap trip penangkapan. 
Sebaran suhu permukaan laut (SPL) di Perairan Kabupaten Kolaka Utara mengindikasikan adanya pencampuran massa air (DKP Kolaka Utara 2003). Massa air hangat  berada di sebelah timur dan utara, sedangkan massa air yang lebih dingin terdapat di bagian selatan dan barat.  Akibat pertemuan massa air tersebut menyebabkan terjadinya lapisan air tercampur yang diduga kaya akan nutrien.  Kondisi salinitas di perairan Kabupaten Kolaka Utara menunjukkan salinitas perairan tinggi pada musim peralihan I (MP I) dan musim timur (MT). Pada musim barat (MB) dan musim peralihan II (MPII) salinitas lebih rendah berdasarkan data rata-rata bulanan. Kondisi arus laut menunjukkan kecepatan arus di Teluk Bone cenderung tinggi, namun demikian pada bagian utara perairan Kolaka utara menunjukkan kecepatan arus semakin berkurang dari timur ke barat  (DKP Kolaka Utara 2003).
            Perikanan tangkap telah memberikan konstribusi yang sangat nyata dalam pengembangan dan pembangunan Kolaka Utara, dimana berdasarkan produksi perikanan tangkap sebesar 6.138,00 ton atau sebesar 0,1% dari total produksi perikanan Indonesia yang mencapai 4.629.209 ton (DKP Kolaka Utara, 2003).  Jenis industri pengolahan ikan yang ada yaitu pengolahan ikan air tawar dan ikan air laut. Pengolahan hasil ikan air tawar terdapat di Kecamatan Ranteangin, Pakue Utara dan Pakue Barat, sedangkan pengolahan ikan laut lebih tersebar di Kecamatan Ranteangin, Lasusua, Kodeoha, Watunohu dan Pakue Utara.
Adapun alat tangkap yang umumnya di gunakan masyarakat nelayan Kolaka utara adalah alat tangkap Gillnet (jaring insang tetap) atau dikenal dengan sebutan pukat. Keberhasilan pengoperasian jaring insang tetap adalah mengetahui arah gerak renang ikan, karena alat tangkap ini bersifat pasif.   Sifat pasif dari alat tangkap ini menyebabkan perlu diketahui lokasi yang memiliki ketersediaan ikan yang menjadi tujuan utama penangkapan, dimana ketersediaan ikan pada suatu areal perairan ditentukan oleh keadaan lingkungan.  Kondisi perairan menjadi penting untuk diketahui sejauhmana pengaruh perubahan kondisi oseanografi di lokasi penangkapan jaring insang tetap pada perairan Kolaka Utara. Diketahuinya pengaruh kondisi oseanografi terhadap ketersediaan ikan akan membantu untuk mengoptimalkan pengoperasian alat tangkap, khususnya jaring insang tetap.

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Pertumbuhan Dan Produksi Biomassa Daun Lamun Halophila Ovalis, Syringodium Isoetifolium Dan Halodule Uninervis Pada Ekosistem Padang Lamun Di Perairan Pulau Barrang Lompo (IKN-2)

Produktivitas adalah energi yang diterima dan disimpan oleh organisme dalam ekositem yang terdiri dari produktivitas primer dan produktivitas sekunder. Produktivitas primer adalah kecepatan mengubah energi cahaya matahari menjadi energi kimia dalam bentuk bahan organik oleh organisme autotrof. Seluruh bahan organik yang dihasilkan dari proses fotosintesis pada organisme autotrof disebut produktivitas primer kotor dan bahan organik yang tersimpan disebut produktivitas primer bersih. Produktivitas sekunder adalah kecepatan energi kimia mengubah bahan organik menjadi simpanan energi kimia baru oleh organisme heterotrof. Bahan organik yang tersimpan pada organisme autotrof dapat digunakan sebagai makanan bagi organisme heterotrof. Dari makanan ini organisme heterotrof memperoleh energi kimia yang akan digunakan untuk kegiatan kehidupan dan disimpan (Riberu, 2002). 

Ekosistem padang lamun dikenal dengan ekosistem yang memiliki produktivitas yang tinggi. Laju produksi ekosistem padang lamundiartikan sebagai pertambahan biomassa lamun selang waktu tertentu dengan laju produksi (produktivitas) yang sering dinyatakan dengan satuan berat kering per m2 perhari (gbk/m2/hari). Bila dikonversi ke produksi karbon maka produksi biomassa lamun berkisar antara 500-1000 gC/m2/tahun  bahkan dapat lebih dua kali lipat (Azkab, 2000c). 
 
Produksi yang didapatkan bisa lebih kecil dari produksi yang sebenarnya karena tidak memperhitungkan kehilangan serasah dan pengaruh grazing oleh hewan-hewan herbivora yang memanfaatkan lamun sebagai makanan (Azkab, 2000c).
Menurut Hutomo et al. (1988) dalam Takaendengan dan Azkab (2010) menyatakan bahwa vegetasi spesies tunggal atau spesies pionir yang hidup pada substrat pasir halus sampai kasar di zona intertidal dan subtidal dan memiliki sebaran vertikal yang luas mulai dari zona intertidal sampai lebih dari 20 m, terutama pada sedimen yang baru terganggu seperti pada timbunan dari aktivitas invertebrata yang membuat liang. Dari hal ini terlihat bahwa lamun pionir menjadi lamun pertama yang menempati wilayah yang mengalami kerusakan sehingga keberadaan lamun ini sangat penting.
Daun lamun merupakan bagian yang lebih cepat mengalami pertumbuhan dibandingkan dengan bagian rhizoma. Namun biomassa daun lamun umumnya lebih kecil dibanding bagian rhizoma. Sehingga pengukuran biomassa daun lamun dapat dijadikan pendekatan dalam perkiraan produksi biomassa secara keseluruhan.
Melihat tingginya pertumbuhan dan produksi lamun dan pentingnya keberadaan jenis lamun tersebut maka perlu dilakukan penelitian tentang pertumbuhan dan produksi biomassa lamun. Informasi tentang produktivitas lamun berguna untuk memahami peranan lamun dalam daur hara dan  rantai makanan sebagai bagian dari kegiatan pengelolaan laut dan pesisir. Hal inilah yang melatar belakangi peneliti untuk mengkaji tentang produktivitas lamun.

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini