Showing posts with label Komunikasi. Show all posts
Showing posts with label Komunikasi. Show all posts

Monday, February 18, 2013

Pengaruh Promosi Penjualan Pakaian Wanita Di Group Blackberry Messenger Terhadap Minat Beli Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Hasanuddin (KM-19)



Perkembangan komunikasi telah mempengaruhi perkembangan ekonomi. Transaksi jual beli yang sebelumnya hanya bisa dilakukan secara langsung maupun tidak langsung (telepon) menjadi sesuatu yang sangat konservatif dengan adanya media komunikasi seperti media massa, yaitu media elektronik dan media cetak.
Khusus untuk media elektronik, ditandai dengan semakin berkembangnya dunia teknologi informasi. Saat ini dikenal adanya socialnetwork dimana chatting (obrolan) menjadi salah satu pilihan cara berkomunikasi. Hal ini pula yang membuat komunikasi menjadi lebih bervariatif sehingga banyak orang mencoba untuk memanfaatkannya.
Salah satu pemanfaatannya antara lain pada bidang promosi penjualan (marketing promotion). Banyaknya pilihan media promosi saat ini membuat persaingan usaha semakin ketat. Hal ini dimanfaatkan oleh pengusaha baru (newcomer) untuk mempromosikan produk atau jualan mereka diantaranya dengan memanfaatkan socialnetwork.
Blackberry (smartphone) sebagai salah satu alat komunikasi yang mendukung sarana komunikasi dimana salah satu fasilitas utama Blackberry yaitu Group Blackberry Messenger banyak digunakan untuk melakukan kegiatan jual beli produk. Berbagai macam jualan ataupun produk telah dipromosikan melalui salah satu fitur  yang ada pada smartphone blackberry trersebut. Mulai dari promosi barang elektronik, aksesoris olahraga, hingga barang yang merupakan kebutuhan primer manusia yaitu makanan dan pakaian, serta berbagai macam produk atau jualan lainnya.

Salah satu yang menjadi promosi utama melalui group blackberry messenger adalah pakaian, khususnya pakaian wanita yang banyak diminati oleh para pengguna smartphoneBlackberry. Pengguna blackberry wanita umumnya tertarik untuk membeli pakaian wanita melalui group blackberry messenger karena adanya kemudahan dalam bertransaksi, tanpa perlu ke mall atau butik. Pakaian merupakan kebutuhan primer manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia selalu mengenakan pakaian dalam setiap aktivitas. Pakaian berfungsi untuk menutupi aurat, memberi kenyamanan, melindungi  tubuh dari panas atau dingin. Sebagai tambahannya, pakaian digunakan untuk mempercantik diri. Berbeda dengan tas atau sepatu yang berfungsi sebagai kebutuhan pelengkap. Tas atau sepatu ini disebut sebagai pelengkap karena manusia bisa saja beraktivitas tanpa keduanya.
Seseorang dapat dikenal karena penampilan, tingkah laku, suara, cara berpakaian, kesukaan dan lain sebagainya. Pemilihan busana yang tepat disertai pelengkap busana yang sesuai mempunyai arti besar dalam penampilan seseorang. Busana yang serasi dan menarik dapat menambah simpati dan rasa kagum dari orang-orang di sekelilingnya. Berbusana tidak sekadar mengenakan pakaian, pemilihan busana yang tepat sesuai untuk kesempatan dan sesuai pula dengan kepribadian pemakainya, menjadikan penampilan seorang wanita sangat mengesankan.
Antara promosi dan produk, tidak dapat dipisahkan, dua hal ini yang saling berkaitan untuk menuju suksesnya pemasaran. Di sini harus ada keseimbangan, produk baik, sesuai dengan selera konsumen, dibarengi dengan teknik promosi yang tepat akan sangat membantu suksesnya usaha marketing. Teknik promosi yang digunakan ketika melakukan kegiatan promosi penjualan di group blackberry messenger, yaitu dengan sering update status yang isinya menawarkan atau tentang promo yang sedang berjalan seperti diskon 10%, harga lebih murah, dan promo lainnya; share picture kedalam group blackberry messenger; membuat tampilan produk yang menarik seperti menggunakan model yang cantik atau background foto yang menarik; keterangan produk dibuat secara detail seperti bahan produk, warna, panjang, ukuran pinggang, stok produk yang masih tersedia, dan masih banyak lagi; menggunakan kalimat-kalimat yang menarik dan terkesan akrab serta kekeluargaan seperti misalnya menggunakan kata “sis” (dimaksud sister), “say” (dimaksud sayang), “bu.”
Jadi dapat disimpulkan bahwa, minat beli adalah suatu hasrat atau keinginan pembeli yang muncul dalam pribadi seseorang untuk membeli beberapa jumlah atau unit-unit produk atau merek tertentu, dalam periode waktu tertentu pula, di mana rencana tersebut terbentuk melalui proses keputusan atau pemilihan.  Dari keterangan di atas, peneliti tertarik dengan maraknya penjualan atau promosi pakaian wanita di group blackberry messenger. Ketertarikan peneliti lebih ke arah penelitian tentang pengaruh promosi penjualan dan minat beli konsumen.
Berdasarkan uraian di atas peneliti bermaksud untuk meneliti minat beli mahasiswi dikalangan Ilmu Komunikasi Universitas Hasanuddin melalui group Blackberry messenger, karena mayoritas mahasiswa pada jurusan ilmu komunikasi Universitas Hasanuddin adalah wanita atau mahasiswi. Beberapa dari mahasiswi ilmu komunikasi Universitas Hasanuddin merupakan pelaku  transaksi melalui group blackberry messenger, baik sebagai pembeli ataupun sebagai penjual (seller). Peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “Pengaruh Promosi Penjualan Pakaian Wanita di Group Blackberry Messenger terhadap Minat Beli Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Hasanuddin”.

Pengaruh Strategi Komunikasi Money Changer Pada Pt. Haji La Tunrung Amc Makassar Dalam Meningkatkan Jumlah Nasabah (KM-18)

Di era perdagangan bebas seperti sekarang ini Money changer atau tempat penukaran uang asing sudah menunjukkan eksistensinya. Money changer dianggap berjasa dalam memudahkan masyarakat untuk bertransaksi dengan menggunakan mata uang asing. Persaingan usaha ini meningkat seiring dengan makin bertambahnya perusahaan yang bergerak di bidang serupa dan berbagai bank yang turut mengadakan penukaran uang asing di banknya.
Dikutip dari majalah Trust (akses 1 Maret 2011, 15:25 WITA) Meniagakan mata uang ternyata tergolong salah satu sektor bisnis berprospek cerah. Indikasinya, lihat saja populasi penyelenggara money changer yang trennya belakangan ini cenderung terus meningkat. Hingga saat ini, menurut data Bank Indonesia, jumlah money changer telah mencapai 317 perusahaan. Angka tersebut ternyata belum termasuk money changer kelas recehan yang populasinya diperkirakan jauh lebih banyak lagi.
Bertambahnya sejumlah Money Changer ini mengakibatkan terjadinya persaingan antar Money Changer dalam memperoleh dan mempertahankan konsumen. Ada sejumlah hal yang memicu mereka tergiur mencari peruntungan di sektor ini. Yang pertama adalah karena kalangan pengguna jasanya makin membludak. Karena itu, otomatis, permintaan terhadap sejumlah mata uang asing (valas) juga terdongkrak naik. Situasi ini menyebabkan konsumen memiliki banyak pilihan tempat dimana mereka akan melakukan transaksi penukaran mata uang asing. Saat ini nasabah money changer sudah semakin kritis biasanya mereka sebelum memutuskan untuk membeli valas, mereka mencari dulu dari sejumlah money changer dan bank-bank yang kurs valas-nya paling bersaing. Untuk dapat terus memperoleh konsumen baru dan mempertahankannya maka diperlukan strategi komunikasi yang tepat.

Masih dikutip dariwww.majalahtrust.com (akses 1 Maret 2011, 15:25 WITA) Dan berbisnis mata uang makin semarak saja juga karena dipicu oleh keinginan banyak orang untuk berinvestasi. Nyatanya pula, tren mereka yang gemar menyimpan mata uang asing kian meluas. Buat mereka, menabung dalam bentuk valas dipandang lebih aman. Pasalnya, mudah ditebak, nilai tukar rupiah cenderung terus melemah. Tapi, yang mendorong para penyelenggara money changer jadi begitu bersemangat adalah adanya jaminan tidak akan merugi. Maklum saja, selama ini memang ada ketentuan yang memproteksi mereka, yakni harga beli pedagang selalu lebih rendah ketimbang harga jualnya. Dan mereka masih berpeluang memetik keuntungan berlipat jika berani berspekulatif di kala fluktuasi harga tengah melanda sejumlah mata uang. Untuk soal yang terakhir ini, agar tak terpeleset hingga merugi, memang dibutuhkan keahlian dan kecermatan dengan standar yang memadai. Pendek kata, berusaha di jasa penukaran uang memang menggiurkan. Dengan pola pengelolaan yang standar saja, sebuah money changer diperkirakan bisa meraup omzet hingga miliaran rupiah per bulan.
Suatu strategi adalah keseluruhan keputusan kondisional tentang tindakan yang akan di jalankan, guna mencapai tujuan. Jadi strategi komunikasi, berarti memperhitungkan kondisi dan situasi (ruang dan waktu) yang dihadapi dan yang akan mungkin di hadapi dimasa depan guna mencapai efektifitas (Arifin 1981:8). Strategi komunikasi dibutuhkan untuk mempertahankan citra perusahaan, ikut berkompetisi dengan ketatnya persaingan, meningkatkan transaksi pembelian dan penjualan valuta asing serta meningkatkan mutu pelayanan terhadap khalayaknya.
PT. Haji La Tunrung merupakan perusahaan yang bergerak di bidang jasa jual beli mata uang asing (valuta asing) bukan Bank atau biasa disebut Money Changer. Perusahaan yang beroperasi di 24 cabang di Indonesia ini memiliki aktifitas utama yaitu penukaran dan pencairan valuta asing baik berupa BankNotes (BN) dan Travellers Cheque (TC). Pedagang valuta asing berizin ke-5 (lima) di seluruh Indonesia pada 17 Mei 1974. PT. Haji La Tunrung adalah money changer tertua di Makassar, sebagai pelopor money changer namanya sudah tidak asing lagi di kalangan khalayaknya, dalam hal ini nasabah.
Khalayak dari PT. Haji La Tunrung adalah tiap orang yang membutuhkan bertransaksi menggunakan valuta asing. Mulai dari pemilik pakaian cakar yang mendapatkan uang receh mata uang asing di kantong pakaian jualannya, para pemuda yang ingin mempersunting calon istrinya dengan mahar 88 riyal, untuk investasi, hingga yang betul-betul membutuhkannya sehari-hari demi kelancaran bisnis mereka seperti pelayaran/ekspedisi. Buat sebagian orang menabung dalam bentuk valas dipandang lebih aman, alasannya karena mudah ditebak dan nilai tukar Rupiah cenderung terus melemah.
Searah dengan adanya upaya PT. Haji La Tunrung dalam meningkatkan jumlah nasabah maka perlu adanya strategi komunikasi. Salah satu sasaran yang ingin dicpai oleh PT. Haji La Tunrung dalam melakukan strategi komunikasi adalah untuk meningkatkan jumlah nasabah, namun kenyataan yang dihadapi saat ini adalah strategi komunikasi yang dilakukan belum dapat meningkatkan jumlah nasabah. Adapun perkembangan jumlah nsabah untuk tahun 2007 s/d tahun 2011 yaitu sebagai berikut :
Tabel 1.1
Perkembangan Jumlah Nasabah
Tahun 2007 – 2011

Tahun

Jumlah Nasabah
Perkembangan
Orang
%
2007
28.990
-
-
2008
32.730
3.740
12,90
2009
33.990
1.260
3,71
2010
35.340
1.350
3,97
2011
32.920
-1.070
-3,02
Sumber : Data diolah dari PT. Haji La Tunrung di Makassar

Data tabel 1 menunjukkan perkembangan jumlah nasabah pada tahun 2008, 2009, dan 2010 mengalami peningkatan akan tetapi pada tahun 2011 terjadi penurunan. Pada tahun 2008 PT. Haji La Tunrung mengalami peningkatan yang signifikan, ini diketahui karena terjadi krisis Amerika yang mengakibatkan gejolak pada kurs USD. Banyak yang memanfaatkan momenttersebut dengan membeli pada saat kurs USD sangat turun dan menjualnya kembali pada saat kurs sangat tinggi. Tahun 2011 jumlah nasabah mengalami penurunan, faktor yang menyebabkan adanya penurunan jumlah nasabah adalah munculnya money changer-money changer baru yang memberikan nasabah banyak pilihan tempat untuk bertransaksi mata uang asing apalagi money changer-money changer baru tersebut hadir dengan kurs yang kompetitif.
Berasarkan uraian tersebut diatas maka akan dilakukan evaluasi mengenai strategi komunikasi yang dilakukan oleh PT. Haji La Tunrung. Dengan demikian penulis tertarik dalam memilih judul : “Pengaruh Strategi Komunikasi Money Changer Pada PT. Haji La Tunrung AMC Makassar Dalam Meningkatkan Jumlah Nasabah.”

Pengaruh Iklan Layanan Masyarakat Hemat Listrik Pt. Pln Terhadap Sikap Masyarakat Dalam Penggunaan Listrik Di Kecamatan Panakkukangkota Makassar (KM-17)



Kata hemat berarti berhati-hati dalam membelanjakan uang, meng-he-matberarti menggunakan (sesuatu) dengan cermat dan hati-hati (supaya jangan lekas habis, rusak), peng-he-mat-an juga di artikan proses, cara, perbuatan menghemat : merupakan istilah yang dialamatkan ke Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebagai sindiran atas kinerja layanan PT PLN (Persero). Sebagai perusahaan terbesar di bidang kelistrikan di Indonesia, PLN dianggap kurang mampu memuaskan para pelanggan. PLN terlalu sering melakukan pemadaman bergilir di berbagai daerah utamanya di Pulau Sulawesi, Jawa, dan Sumatra .Tindakan PLN itu tentu saja mencederai citra PLN sebagai perusahaan yang melayani publik.
Sejak zaman penjajahan Belanda hingga Indonesia merdeka, peran ketenagalistrikan demikian penting dan memiliki multiplier investasi yang besar.Sejarah ketenagalistrikan Indonesia mengalami pasang surut sejalan dengan perjalanan bangsa dan Negara Indonesia.Pemerintah menyadari bahwa ketenagalistrikan sangat berperan dalam menggerakkan pembangunan di Indonesia.Sejalan dengan perkembangan pembangunan di Indonesia, peran ketenagalistrikan mengalami peningkatan yang tampak dalam semangat dan nilai-nilai listrik. Untuk menandai semangat dan nilai-nilai listrik, Menteri Pertambangan menetapkan tanggal 27 Oktober sebagai Hari Listrik Nasional yang selalu di peringati oleh karyawan PLN dan masyarakat beserta mitra kerjanya.

Sejarah perkembangan dan kemajuan ketenagalistrikan di Indonesia dimulai pada akhir abad ke 19 yang dibangun oleh perusahaan-perusahaan swasta milik Belanda seperti pabrik gula dan teh.Perusahaan-perusahaan Belanda mendirikan pembangkit listrik yang digunakan untuk keperluan pabrik-pabrik milik perusahaan swasta Belanda tersebut.Ketenagalistrikan kemudian dimanfaatkan untuk khalayak umum yang dimulai oleh perusahaan swasta ternama bernama NV.NIGN yang menyediakan tenaga listrik yang dapat dimanfaatkan oleh umum.
Selanjutnya pemerintah Belanda mendirikan Lands Warterkracht Bedrijven – semacam perusahaan listrik Negara – yang mengelola PLTA Lamajan, PLTA Bengkok Dago, PLTA Ubrug dan Kracak di Jawa Barat, PLTA Giringan Madiun, PLTA Tes Bengkulu, PLTA Tonsea Lama Sulawesi Utara, dan PLTU Jakarta. Di beberapa Kota Praja didirikan perusahaan–perusahaan listrik Kotapraja.Terjadi perubahan ketika pemerintah Belanda menyerahkan kekuasaan kepada Jepang pada perang dunia kedua sehingga Jepang menguasai Indonesia termasuk perusahaan listrik.
Personel perusahaan listrik diganti oleh orang-orang jepang, namun kekuasaan Jepang itu berakhir saat Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya.Perusahaan listrik dan gas yang dikuasai oleh Jepang diambil alih oleh para pemuda dan buruh listrik dan gas.Pada September 1945, sebuah delegasi buruh/pegawai listrik dan gas melaporkan hasil perjuangan mereka kepada ketua Komite Nasional Indonesia Pusat Mr. Kasman Singodimedjo yang selanjutnya memimpin delegasi untuk menyerahkan perusahaan perusahaan ketengalistrikan dan gas kepada Presiden Soekarno.
Penyerahan itu diterima oleh Presiden Soekarno yang kemudian membentuk jawatan Listrik dan Gas di bawah Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga melalui ketetapan Pemerintah No. 1 Tahun 1945 pada tanggal 27 oktober 1945.Selanjutnya pada Agresi I dan Agresi II, sebagian besar perusahaan listrik kembali dikuasai oleh Pemerintah Belanda. Kemudian, Presiden Republik Indonesia mengeluarkan Surat Keputusan No. 163 tertanggal 3 oktober 1953, tentang nasionalisasi semua perusahaan Belanda, dan peraturan pemerintah No. 18 tahun 1958 tentang nasionalisasi perusahaan listrik dan gas milik Belanda dikuasai oleh bangsa Indonesia.
Tahun 1972, Pemerintah Indonesia menetapkan status Perusahaan Listrik Negara sebagai Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN) dan pada tahun 1990 melalui peraturan pemerintah Nomor 17, PLN ditetapkan sebagai pemegang kuasa Usaha ketenagalistrikan. Tahun 1992, pemerintah memberikan kesempatan kepada sektor swasta untuk bergerak dalam bisnis penyediaan tenaga listrik.
Sejalan dengan kebijakan itu, pada juni 1994 status PLN dialihkan dari Perusahaan Umum menjadi Perusahaan Perseroan (Persero). (Manerep Pasaribu : 2009). Namun belakangan ini, kinerja PLN cukup buruk dengan memberlakukan pemadaman bergilir di hampir setiap daerah di Indoneisa khususnya di kota Makassar. PLN mempunyai alasan yang kuat kenapa terlalu sering melakukan pemadaman listrik di berbagai daerah: pasokan listrik (daya) tidak sebanding dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat.
Persoalan keterbatasan jasa kelistrikan telah mencuat ketika Indonesia dilanda krisis pertengahan tahun 1997, antara lain, melemahnya nilai tukar rupiah.Pemerintah mengalami keterbatasan finansial sehingga subsidi pada berbagai sektor pembiayaan terpaksa dikurangi, antara lain pengurangan subsidi pada sektor BBM (bahan bakar minyak) dan listrik. Pengurangan subsidi ini terwujud dalam kenaikan harga BBM dan Tarif Dasar Listrik (TDL) sejak 2002 sampai 2003 (laporan keuangan PLN 1997-2000).
Meski telah mengalami kenaikan harga yang memberatkan berbagai pihak, tarif listrik di Indonesia termasuk yang paling murah di Asia.Akan tetapi, pada waktu lalu masyarakat Indonesia sudah biasa menikmati listrik dengan tarif murah bersubsidi.Sama seperti harga BBM, maka tarif yang masih murahpun tetap dirasakan mahal oleh sebagian besar masyarakat.Pasalnya kenaikan tarif listrik dan BBM bagai efek domino yang mendorong kenaikan harga pada semua sektor. Kondisi masyarakat makin terpuruk karena di satu pihak, harga semua barang meningkat dan di lain pihak makin banyak warga yang mengalami penurunan dan kehilangan kemampuan daya beli yang diakibatkan PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Solusi pemerintah agar tetap memberi layanan ketenagalistrikan adalah tetap menyediakan subsidi untuk golongan sosial dan rumah tangga 450VA (laporan keuangan PLN 2011).
Untuk itulah, akhir-akhir ini PLN sering menghimbau kepada pelanggan untuk semaksimal mungkin menghemat pemakaian listrik. Penghematan yang dilakukan masyarakat akan besar manfaatnya dalam membantu krisis kelistrikan yang dialami PLN pada saat ini. Himbauan ini biasanya melalui berbagai saluran media, baik cetak maupun elektronik. Dalam mengkampanyekan penghematan listrik paling tidak ada dua titik berat yang disampaikan PLN, pertama: untuk memakai listrik seperlunya dan menghemat selebihnya, kedua: usahakan agar meminimalkan pemakaian listrik pada jam beban puncak 18.00 – 21.00.

Iklan layanan masyarakat yang sering diluncurkan PLN biasanya melalui media televisi. Memang jika dibandingkan dengan media massa lainnya, televisi mempunyai sifat yang istimewa, yakni gabungan dari media dengar dan gambar hidup (gerak), yang bisa bersifat politis, informatif, hiburan, pendidikan atau bahkan gabungan dari unsur-unsur tersebut. Media televisi dapat menyajikan pesan yang sebenarnya merupakan hasil dramatisir secara audiovisual dan unsur gerak dalam waktu bersamaan. Televisi sebagai media massa idealnya memiliki beberapa fungsi, antara lain fungsi informatif, edukatif, rekreatif, dan sebagai sarana menyosialisasikan nilai-nilai atau pemahaman-pemahaman, baik yang lama maupun yang baru.
Tak terbatasnya dunia komunikasi massa melalui media massa seperti televisi, mengantarkan masyarakat pada arus perubahan peradaban yang cepat. Televisi saat ini seakan menjadi guru elektronik yang mengatur dan mengarahkan serta menciptakan budaya massa baru. Banyak hal bisa dipelajari, baik itu secara sengaja maupun tanpa sadar. Banyak gaya hidup yang diimitasi dan adopsi dari apa yang disajikan televisi bahkan para pemirsa televisi menjadi begitu permisif untuk mengadakan penjadwalan ulang kegiatan demi satu atau jenis tayangan tertentu.
Tak dipungkiri lagi bahwa gejolak pertelevisian di Indonesia bersumber pada pemasukan iklan.Makin banyak iklan yang masuk maka makin kokohlah perusahaan televisi tersebut.Salah satu iklan yang diserap adalah iklan layanan masyarakat.PLN dalam hal ini memasang iklan layanan masyarakat di berbagai saluran televisi guna mempermudah komunikasi antara produsen dan konsumen dalam hal himbauan untuk menghemat pemakaian listrik.
Namun apakah iklan yang disampaikan PLN di media televisi tersebut mempunyai efek kepada penghematan pemakaian listrik bagi masyarakat di Kota Makassar. Seperti diketahui, Kota Makassar adalah salah satukotaterbesar ke empat setelah Jakarta, Medan, Surabaya, dan Makassar.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti sangat tertarik untuk melihat bagaimanakah sikap masyarakat di Kota Makassar terhadap iklan layanan masyarakat PT PLN (Persero) di televisi untuk menghemat listrik. Dengan Judul “Pengaruh Iklan Layanan Masyarakat Hemat ListrikPT PLNTerhadap Sikap Masyarakat dalam Penggunaan Listrik Di Kecamatan Panakkukang Kota Makassar

Saturday, February 16, 2013

Penggunaan Media Online Dalam Pemasaran Perahu Phinisi Di Kalangan Pengrajin Perahu Di Kabupaten Bulukumba (PM-45)



Ilmu komunikasi dalam beberapa tahun terakhir mengalami perkembangan dan semakin canggih dalam beberapa aspek. Hal ini mendorong berbagai kalangan dalam masyarakat untuk meningkatkan potensi yang dimiliki dalam berbagai aspek pula. Persaingan pun merebak kemana-mana, mulai dari persaingan sosial hingga usaha, termasuk dalam hal perdagangan. Dalam hal ini kemudahan berkomunikasi menjadi salah satu faktor yang sangat diperlukan untuk mengembangkan semua itu. Kumunikasi dapat menghubungkan apapun yang akan dilakukan manusia terhadap manusia lainnya. Menurut Harold D. Lasswell dalam Cangara (2010: 19) mengatakan tindakan komunikasi ialah menjawab pertanyaan “Siapa yang menyampaikan, apa yang disampaikan, melalui saluran apa, kepada siapa dan apa pengaruhnya’. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa komunikasi merupakan sarana penghubung yang sangat dibutuhkan dalam interaksi sosial masyarakat, termasuk dalam hal perdagangan.

 
Dalam perdagangan, komunikasi sangat sering dilakukan atau dibutuhkan dalam hal pemasaran. Dalam hal ini, keinginan produsen untuk mendistribusikan produk mereka memerlukan keterampilan, kemudahan, kecepatan dan keefisienan waktu untuk melaksanakannya. Artinya, alat komunikasi yang tepat dan canggih sangat diperlukan agar produk-produk dapat terpromo dan terdistribusi seluas mungkin.
Jarak yang jauh dari daerah ke daerah lain tak memungkinkan produsen mendistribusikan atau memasarkan apa yang telah mereka produksi, maka dengan itu media transportasi darat bahkan udara tidak cukup efektif lagi untuk selalu diandalkan dalam sistem pemasaran. Dalam situasi sperti ini, diperlukan media online untuk memudahkan semua itu, karena dengan media online orang dapat membuka atau mengakses kapanpun mereka mau. Jadi tiap kali ada produksi baru dapat langsung diupdate untuk disebarkan ke semua orang.

Dengan pertimbangan tersebut, penulis akan membahas tentang pentingnya media online dalam pemasaran perahu phinisi yang terdapat di Kabupaten Bulukumba. Dalam hal ini, penggunaan media online akan diterapkan dalam sistem pemasaran perahu phinisi di kalangan pengrajin perahu yang terdapat di kabupaten Bulukumba. Selain itu, penulis juga akan memaparkan sistem pemasaran yang dilakukan selama ini serta kendala-kendala yang dihadapi dalam melakukannya.
Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi dewasa ini ditandai oleh kemudahan dan kecepatan dalam mengakses informasi dan komunikasi. Orang dapat saling berinteraksi lewat jaringan komputer atau teknologi informasi global yang di kenal dengan nama internet (International Networking). Tidak diragukan lagi bahwa kehadiran dan pertumbuhan teknologi media online telah menjadi salah satu fenomena sosial yang paling menarik perhatian saat ini. Di seluruh dunia, termasuk Indonesia, kini semakin banyak orang yang memanfaatkan media online untuk bermacam-macam kebutuhan.
Beragamnya informasi yang tersaji dan online (terhubung) di internet, mengakibatkan individu akan mengakses informasi tersebut sesuai dengan kegunaan dan kepuasan yang didapatkannya. Hal ini sesuai dengan Model Uses and Gratification yang di kemukakan oleh Elihu Katz dkk (Dalam buku. Teori Komunikasi Massa. Diterjemahkan oleh : Agus Dharma dan Aminuddin Ram). Dimana model ini menggambarkan proses penerimaan dalam komunikasi massa dan menjelaskan penggunaan media oleh individu.
Model ini menunjukkan bahwa yang menjadi permasalahan utama bukanlah bagaimana media mengubah sikap dan perilaku khalayaknya, tetapi bagaimana media mengubah sikap dan perilaku khalayak. Teori ini tidak membahas apa yang dilakukan media pada diri orang, tetapi membahas tentang apa yang dilakukan orang terhadap media. Khalayak dianggap secara aktif menggunakan media untuk memenuhi kebutuhan. Dalam teori ini tersirat pengertian bahwa komunikasi massa berguna (utility) bahwa komunikasi media mencerminkan kepentingan dan preferensi (selectivity) dan bahwa khalayak sebenarnya kepala batu (stubborn). Karena penggunaan media hanyalah salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan psikologis, efek media dianggap sebagai situasi ketika kebutuhan itu terpenuhi.
Teori Uses and Gratification berguna untuk meneliti asal mula kebutuhan manusia secara psikologis dan sosial, yang menimbulkan harapan tertentu dari media massaatau sumber-sumber lain (atau keterlibatan pada kegiatan lain) dan menimbulkan pemenuhan kebutuhan.
Pemasaran merupakan salah satu dari kegiatan pokok yang dilakukan oleh pengusaha mempertahankan kelangsungan hidupnya, untuk berkembang, dan mendapatkan laba. Pemasaran dikembangkan dari kata pasar yang berarti sarana atau tempat berkumpulnya orang yang terlibat dalam pemasaran, dalam pengertian abstrak pemasaran diartikan sebagai suatu kegiatan, proses atau system keseluruhan. Berikut ini Perpustakaan Online Blogger Indonesia (duniabaca.com) berbagi pengetahun tentang pengertian pemasaran dan pengertian menajemen pemasaran yang dikemukakan oleh beberapa pendapat para ahli, dimana dari pendapat-pendapat tersebut kita bisa menyimpulkan secara lebih spesifik mengenai definisi pemasaran dan definisi manajemen pemasaran.
Menurut Kotler (2000 : 4) pemasaran adalah sebagai suatu proses sosial dan manajerial dimana seseorang atau kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan usahakan melalui penciptaan, pertukaran yang dapat memenuhi kebutuhan, keinginan dan permintaan seseorang atau kelompok.
Sedangkan menurut Sofyan Assauri (2004 : 5) pemasaran adalah kegiatan manusia yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan melalui proses pertukaran. Dan menurut William J. Stanton dalam Basu Swasta (1998:179) pemasaran adalah suatu sistem keseluruhan dari kegiatan usaha yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan, dan mendistribusikan barang dan jasa untuk memuaskan kebutuhan kepada pembeli yang ada maupun pembeli potensial.
Selain itu menurut Philip Kotler (2001), pemasaran adalah kegiatan manusia yang bertujuan memuaskan kebutuhan dan keinginan manusia melalui proses pertukaran.
Pengertian tersebut dapat memberikan gambaran bahwa pemasaran merupakan proses pertemuan antara individu dan kelompok dimana masing¬masing pihak ingin mendapatkan apa yang mereka butuhkan atau inginkan melalui proses menciptakan, menawarkan, dan pertukaran. Selain itu, pemasaran sebagai suatu sistem dari kegiatan yang saling berhubungan satu dan yang lainnya, yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan, dan mendistribusikan barang atau jasa kepada pembeli secara individual maupun kelompok pembeli. Kegiatan tersebut beroperasi dalam suatu lingkungan yang dibatasi sumber dari perusahaan, peraturan¬peraturan, maupun konsekuensi sosial perusahaan.
Dalam menjalankan kegiatan pemasarannya suatu perusahaan melakukan pengkoordinasian agar tujuan dan sasaran yang diharapkan dalam bidang pemasaran khususnya dan perusahaan umumnya dapat tercapai secara etektif dan efisien. Pengkoordinasian yang dapat menciptakan sinergi dilakukan dengan manajemen yang baik, yang dikenal dengan istilah manajemen pemasaran.
Hal itu pula yang akan penulis bahas dalam sistem pemasaran perahu phinisi melalui media online. Selama ini, perahu phinisi hanya dikenal saja oleh masyarakat indonesia. Mereka hanya melihat bentuknya melalui gambar atau tayangan-tayangan Televisi yang sesekali muncul menampilkan keanekaragaman budaya Indonesia. Mereka belum pernah mengenal cara dan sistem pembuatannya. Dengan demikian, perahu phinisi Cuma menjadi simbol dari kabupaten Bulukumba saja, tanpa dipasarkan luas untuk digunakan sebagai perahu sehari-hari dalam berlayar, menangkap ikan atau sekedar rekreasi. Hal ini dikarenakan karena sebelumnya semua pengrajin hanya membuat perahu tanpa ada jalan untuk mempromosikan atau memasarkan.
Perahu phinisi saat ini memang banyak dipesan oleh orang luar negeri seperti Malaysia, Jepang, Singapura, Australia, dan bahkan dari Negara-negara Eropa. Akan tetapi para pemesan perahu tersebut tidak signifikan. Pemesan dari Negara-negara tersebut merupakan orang tertentu yang memang mendalami budaya. Masyarakat luas internasional belum secara rutin memesan perahu phinisi, hal ini dikarenakan karena system pemasaran perahu phinisi masih belum mendunia (belum tersebar banyak secara online).
Oleh karena itu, dengan adanya media online, maka perahu phinisi dapat dikenal dengan sempurna, mulai dari cara pembuatannya hingga sistem pengoprasiannya. Ini semua akan diterapkan dalam sistem penggunaan media online dalam memasarkan hasil produksi perahu phinisi. Nantinya media-media online dibuat beragam utuk disesuaikan dengan kebutuhan konsumen yang ingin melihat atau mengenal lebih jauh tentang perahu phinisi. Media-edia ssperti web, blog, facebook dan semacamnya akan coba digunakan untuk memasarkan hasil produksi perahu phinisi.
Di Bulukumba sendiri ada beberapa pengrajin perahu phinisi yang memproduksi perahu tanpa mengetahui sejauh mana target mereka, berapa jumlah produksi dan siapa yang akan membeli. Jadi terkadang pengrajin tidak rutin melakukan produksi. Hal ini menyebabkan, pengrajin-pengrajin tersebut tak bisa menggantungkan hidup mereka dari hasil pembuatan perahu phinisi. Mereka baru akan membuat perahu saat ada pemesan, itupun tidak setiap saat dan pemesannya hanya orang-orang tertentu yang berasal dari mancanegara dan sedikit masyarakat  lokal atau masyarakat sekitar Kabupaten Bulukumba saja. Semua ini bukan karena perahu phinisi tidak menarik ataupun kwalitasnya  jelek, tapi karena kekurang tahuan orang-orang tentang apa dan bagaimana perahu phinisi itu sebenarnya.
Padahal, sebenarnya pengrajin dapat memproduksi perahu phinisi tiap saat walaupun ukurannya kecil, untuk dipamerkan sebagai ciri khas Kabupaten Bulukumba, hal ini juga dapat menjadi sarana wisata bagi yang berkunjung ke Bulukumba untuk melihat hasil produksi perahu phinisi dan cara pembuatannya.
Selain itu, jarak antara tempat pembuatan perahu phinisi dan kota Bulukumba lumayan jauh, jadi saat pertamakali orang-orang menginjakkan kaki di Bulukumba, mereka tidak melihat atau bahkan tidak menemukan informasi langsung mengenai perahu phinisi. Bahkan saat orang-orang melewati tempat pembuatan perahu phinisi tersebut, merekan tak tahu kalau yang dilihatnya adalah perahu phinisi. Ini disebabkan perahu-perahu tersebut masih dalam tahap pembuatan yang tampilannya jauh berbeda dengan perahu phinisi yang sudah jadi, yang sering mereka lihat dalam buku-buku sejarah atau tayangan televisi yang sekali-sekali.
Perahu phinisi sendiri terdapat berbagai jenis sesuai tujuan dan fungsi perahu itu, adapun yang sering terlihat di gambar-gambar adalah perahu phinisi hias yang hanya digunakan untuk rekreasi, makanya diberi sturan layar yang sedemikian indah dan berkarakter. Adapun perahu phinisi yang digunakan untuk berlayar, menangkap ikan, atau transportasi lokal adalah perahu phinisi bermesin yang tak memakai layar. Hal-hal semacam ini kurang diketahui oleh orang-orang, mereka hanya mengetahui kalau perahu phinisi itu adalah perahu yang memakai layar tersusun rapih dan berkarakter. Oleh karena itu, pentingnya pemasaran yang efektif sangat dibutuhkan dalam memperkenalkan hingga menual perahu phinisi itu ke orang-orang.
Dengan demikian, media online merupakan sarana yang tepat dalam melakukan pemasaran terhadap perahu phinisi hasil kreasi dari beberapa pengrajin yang ada di kabupaten Bulukumba. Dalam media tersebut akan dipaparkan cara pembuatan perahu phinisi, keguanaan, keunggulan hingga jenisnya. Semuanya akan mudah diakses oleh masyarakat yang ingin tahu lebih banyak tentang perahu phinisi tersebut, atau bahkan orang-orang yang akan memilikinya.
Selain itu, beberapa jenis perahu phinisi semuanya akan ditampilkan baik dari ukuran, bentuk, fungsi dan sebagainya, sehingga orang-orang tak perlu lagi ke Bulukumba untuk mengetahui tentang perahu phinisi. Media-media online akan memaparkan secara lengkap tentang perahu phinisi hingga cara pemesanannya termasuk harga yang ditawarkan. Hal ini akan mempermudah pihak produsen dan konsumen untuk saling bertukar informasi.
Berdasarkan pemaparan diatas, maka penulis akan melakukan suatu penelitian tentang pentingnya media online dalam hal pemasaran perahu phinisi denga judul:
“Penggunaan Media Online dalam Pemasaran Perahu Phinisi di Kalangan Pengrajin Perahu di Kabupaten Bulukumba

Thursday, February 14, 2013

Stereotip Suku Mandar Di Kota Makassar ( Studi Komunikasi Antarbudaya Suku Bugis Dan Suku Mandar (KM-16)

Keanekaragaman suku bangsa merupakan masalah global, hampir seluruh negara di dunia memiliki keanekaragaman suku, etnis dan agama. Keanekaragaman tersebut tentunya ditandai dengan keberagaman kebubudyaan antara satu dengan yang lain. Hal tersebut dapat dilihat dari perbedaan tatanan pengetahuan, bahasa, pengalaman, kepercayaan, nilai, sikap, dan konsep tentang alam semesta.
Kebudayaan yang dimiliki oleh suku, etnis, dan agama turut mempengaruhi gaya komunikasi sehingga perbedaan budaya dapat menjadi sebuah rintangan dalam berinteraksi satu sama lain. Sebagaimana dikemukakan Cangara (2008:156) bahwa terdapat rintangan budaya yang menjadi gangguan dalam berkomunikasi dimana rintangan budaya yang dimaksud adalah rintangan yang terjadi disebabkan adanya perbedaan norma, kebiasaan dan nilai-nilai yang dianut oleh pihak-pihak yang terlibat dalam berkomunikasi.
Keanekaragaman masyarakat (masyarakat majemuk) adalah hal yang dihargai pada masyarakat Indonesia karena masyarakat Indonesia sendiri terdiri dari berbagai macam suku, etnis dan agama.Wilodati (2012) secara rinci menggambarkan kemajemukan masyarakat Indonesia dari berbagai sisi:  Pertama,  hubungan kekerabatan, hubungan kekerabatan ini merujuk pada pada ikatan dasar hubungan darah (keturunan) yang dapat ditelusuri berdasarkan garis keturunan ayah, ibu atau keduanya. Kedua, ras dapat dibedakan dengan ciri-ciri fisik orang lain (rambut, kulit dan bentuk muka). Ketiga, daerah asal merupakan tempat asal orang lahir yang akan memberikan ciri tertentu apabila yang bersangkutan berada di tempat lain seperti dialek yang digunakan, anggota organisasi yang bersifat kedaerahan serta prilaku. Keempat, menggunakan bahasa sukunya masing-masing. Kelima, agama yang dianut Indonesia yang berbeda-beda.

Masyarakat majemuk yang hidup bersama dalam satu wilayah terdiri dari berbagai latar belakang budaya yang berbeda tentunya sangat rentan dengan konflik antar kelompok. Konflik kelompok di Indonesia, seperti konflik SARA (suku, agama, ras dan antar golongan) sudah menjadi  konsekuensi dalam hidup bermasyarakat majemuk, karena hal tersebut  bisa  terjadi kapan saja dengan membawa identitas kelompok. Konflik  SARA biasanya terjadi ketika antar kelompok tidak dapat saling memahami budaya masing-masing  dan merasa budayanyalah yang lebih unggul dibanding yang lain (etnosentrisme).
Konflik kelompok dalam masyarakat majemuk mengindikasikan bahwa terdapat kegagalan dalam komunikasi antarbudaya. Komunikasi yang dimaksud menurut Stewart dalam Djuarsa dan Sunarwinardi (2008:277) adalah komunikasi yang terjadi dalam satu kondisi yang menunjukan adanya perbedaan budaya seperti bahasa, nilai, adat dan kebiasaan. Keberhasilan komunikasi antarbudaya dapat dijelaskan dalam prespektif The 5 Invetable Laws of Effective Communication (Lima Hukum Komunikasi Efektif) meliputi: Respect, Empathy, Audible, Clarity, dan Humbledisingkat  REACH.  Hal ini relevan dengan prinsip komunikasi sosial budaya yaitu sebagai upaya meraih perhatian, minat, kepedulian, simpati, tanggapan, maupun respon positif dari orang lain (Suranto, 2010:194).
Stereotip-stereotip terhadap suku, etnis dan agama tertentu merupakan hambatan dalam membangun sebuah komunikasi antarbudaya yang efektif. Lippman dalam Mariah (2007:62) menggambarkan stereotip sebagai “Pictures in our heads” bahwa tidak melihat dulu lalu mendefinisikan, mendefinisikan dulu kemudian melihat, kita diberitahu dunia sebelum melihatnya dan membayangkan kebanyakan hal sebelum mengalaminya. Dari penjelasan ini kita dapat mengetahui bahwa stereotip dapat menjadi penghambat dalam proses komunikasi karena stereotip dapat menimbulkan penilaian negatif antar suku dan etnis.
Stereotip itu sendiri terbentuk oleh kategori sosial yang merupakan upaya individu untuk memahami lingkungan sosialnya. Dengan kata lain, ketika individu menghadapi sekian banyak orang di sekitarnya, individu akan mencari persamaan-persamaan antara sejumlah orang tertentu dan mengelompokkan mereka kedalam satu kategori. Namun pada gilirannya kategori sosial ini justru mempengaruhi cara pandang seseorang yang sudah dimasukkan kedalam kelompok tersebut. Akibatnya timbul kesalahan-kesalahan dalam melakukan persepsi sosial karena seluruh individu dalam kategori sosial tertentu mempunyai sifat-sifat dari kelompoknya.
Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa multikultur terdiri dari banyak suku dan etnik tentunya akan mudah menimbulkan stereotip antaretnik dan suku. Stereotip ini dapat menjadi pemicu konflik jika stereotip tidak sesuai dengan kebenaran yang ada atau salah dalam mempersepsi terhadap kelompok lain. Oleh karena itu kesalapahaman yang ditimbulkan oleh stereotip harus senantiasa dihilangkan dalam aktifitas komunikasi antarbudaya.
Keberhasilan komunikasi antarbudaya juga sangat diperlukan bagi masyarakat yang mendiami kota-kota besar di Indonesia. Tingginya tingkat perpindahan penduduk dari desa ke kota, ketergantungan ekonomi dan mobilitas antar negara menjadikan kota sebagai tempat yang didiami berbagai latarbelakang budaya yang berbeda. Kesalapahaman antarbudaya yang ditimbulkan oleh stereotip bisa saja terjadi dalam hidup bermasyarakat di kota-kota besar jika anggota masyarakat tidak dapat memahami satu sama lain mengenai budaya kelompok lain.
Salah satu kota besar yang terdapat di Indonesia yang saat ini mengalami perkembangan pesat adalah kota Makassar, terletak dibagian timur Indonesia yang sekaligus merupakan Ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan. Kota Makassar sejak abad XV sudah menjadi kota Niaga yang memiliki peranan penting di Asia Tenggara adanya hubungan dangan kota-kota dagang lainnya seperti Siam, Pegu, Malaka, Aceh, Cina dan Arab sebagai bukti bahwa kota Makassar adalah sebuah kota yang besar sekaligus menandakan bahwa kota Makassar sudah menjadi kota multikultur.
Sampai saat ini pun kota Makassar masih menjadi primadona bagi masyarakat lokal maupun mancanegara. Sebagai pusat ekonomi, hiburan dan pendidikan, tentunya hal tersebut menjadi daya tarik kelompok masyarakat tersebut untuk menetap di kota Makassar. Tak heran jika kota Makassar didiami bebagai macam etnis, suku dan agama yang berbeda dan ini dapat dilihat dengan adanya perkempungan etnis atau suku tertentu yang ada di kota Makassar seperti kampung Cina, kampung Toraja, kampung Mandar.
Adanya pemikiran etnosentrisme, stereotip dan prasangka negatif yang masih berkembang sampai saat ini dapat menjadi potensi pemicu terjadinya konflik antar kelompok etnis dan suku di kota Makassar. Seperti halnya rentetan konflik  yang pernah  terjadi contohnya konflik   pada tahun 1997 melibatkan etnik Bugis-Makassar dan Cina, kemudian tawuran antar mahasiswa berbeda suku yang kerap terjadi dan terakhir konflik mahasiswa Bone dan Palopo pada tanggal 29 oktober 2011 adalah gambaran nyata bahwa konflik antar kelompok suku dan etnis sangat rentan di kota Makassar sebagai kota yang bermasyarakat majemuk.  
Di Sulawesi Selatan terdapat beberapa etnis dan suku, tetapi ada empat suku besar yang sekaligus mendiami kota Makassar yakni Makassar, Bugis, Toraja dan Mandar. Dari literatur-literatur sejarah Sulawesi Selatan bahwa sejak zaman kerajaan, keempat suku tersebut sudah memiliki hubungan satu sama lain baik dari aspek perdagangan, politik, dan budaya. Oleh karena itu keempat suku tersebut memiliki beberapa persamaan dari aspek budaya dan sampai saat ini keempat suku tersebut memilik ikatan persaudaraan yang kuat sebagai suku besar yang mendiami Sulawesi Selatan.
Suku Mandar sendiri dulunya menjadi bagian dari Sulawesi Selatan, tetapi pada tahun 2006 daerah suku Mandar terpisah dari Sulawesi Selatan menjadi sebuah provinsi tersendiri dibagian barat Sulawesi, tetapi suku Mandar yang sudah bermukim di kota Makassar  masih tetap  menjadi bagian dari masyarakat kota Makassar. Ini terbukti dengan adanya sebuah perkampungan Mandar yang bagi masyarakat kota Makassar mengenalnya “Kampung Mandar” daerah ini berada di Jalan Rajawali kelurahan Lette kecamatan Mariso kota Makassar, penghuni daerah ini adalah mayoritas suku Mandar.
Salah satu contoh stereotip yang berkembang bagi suku-suku yang ada di Sulawesi Selatan adalah stereotip terhadap suku Mandar. Selain suku Mandar diakaui sebagai pelaut ulung yang hanya dengan perahu “Sandeq”  dapat mengarungi lautan luas, diketahui juga bahwa suku Mandar adalah suku yang banyak memiliki “Ilmu sihir” atau bagi masyarakat Sulawesi Selatan mengenalnya  dengan istilah  “Doti”. “Pelembekan kepala” terhadap lawan yang ingin disengsarakan adalah jenis doti yang dimiliki suku Mandar dan menjadi cerita yang lazim terdengar dan di takuti di Sulawesi Selatan (Ngeljaratan dalam http:/sebuah-refleksi-kritis-tentang-mandar).
Berkembangnya stereotip tersebut bisa menjadi potensi yang menghambat dalam komunikasi antarbudaya Suku Mandar dengan suku Bugis maupun dengan suku lainnya khususnya ketika mereka berada dalam linkungan masyarakat Kota Makassar. Stereotip tersebut bisa saja menjadi penilaian negatif terhadap suku Mandar sehingga dikawatirkan akan mengarah pada sikap dan perilaku negatif  terhadap suku mandar. Selain itu apabila kebenaran akan stereotip tersebut benar-benar terjadi tentunya tuduhan akan secara langsung tertuju pada suku Mandar yang belum tentu suku Mandar yang melakukan sehingga menimbulkan kesalahpahaman.
Berdasarkan asumsi tersebut maka penulis ingin meneliti mengenai stereotip tersebut dengan judul penelitian:
“Stereotip Suku Mandar di Kota Makassar (Studi Komunikasi Antarbudaya suku Bugis dan suku Mandar)”

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini

Strategi Pelayanan Pt. Bank Bukopin Tbk Dalam Meningkatkan Loyalitas Nasabah Di Makassar (KM-15)

Semakin ketatnya persaingan di dalam dunia usaha pada saat sekarang ini, membuat para pelaku usaha baik itu perseorangan atau persekutuan, ataupun dalam bentuk perusahaan haruslah memiliki faktor yang dapat dijadikan oleh perusahaan sebagai senjata dalam usahanya untuk memenangkan persaingan dengan para pesaingnya di dunia bisnis. Meskipun perusahaan telah berusaha bersaing dan memberikan yang terbaik untuk konsumen belum tentu dapat menjamin akan berhasilnya usaha pencapaian tujuan perusahaan, karena tiap konsumen memiliki selera dan keinginan yang berbeda-beda, sehingga setiap perusahaan memiliki strategi pelayanan yang berbeda-beda pula.
Begitu pula dalam dunia perbankan, strategi pelayanan merupakan salah satu faktor penting dalam meningkatkan kepuasan dan loyalitas nasabah serta meningkatkan citra perusahaan itu sendiri karena bank sebagai perusahaan penyedia jasa keuangan sangatlah tergantung pada pelanggan atau nasabah yang menggunakan jasanya. Karena peranan bank dalam kehidupan masyarakat tidak dapat dilepaskan dari keberadaan nasabah yang sudah seharusnya mendapatkan pelayanan terbaik dari bank.
Tahun 2012 merupakan tahun dengan tingkat persaingan yang semakin ketat bagi dunia perbankan, ditengah tuntutan untuk bisa terus tumbuh serta tekanan untuk bisa meningkatkan profit agar bisa menunjukkan kinerja positif, sehingga dalam kondisi seperti saat ini diharapkan kejelian suatu lembaga perbankan untuk bagaimana mengkomunikasikan pelayanan yang dimiliki agar dapat menarik minat calon konsumen untuk memilih serta loyal terhadap produk perbankan yang digunakannya karena saat ini produk-produk yang ditawarkan perbankan di Indonesia sebagian besar sudah sama, jadi saat ini persaingan dalam dunia perbankan ada di level pelayanan. Semakin baik pelayanan, maka masyarakat lebih tertarik menjadi nasabah.

Situasi pelayanan perbankan saat ini sangat berbeda dengan layanan tempo dulu. Dulu bank tidak perlu mencari nasabah peminjam uang. Sebaliknya para peminjam uanglah yang datang ke bank. Saat ini suasananya sudah berubah, direktur bank duduk sedekat mungkin dengan nasabah, satpam dan karyawan penuh senyum merayu agar nasabah tetap loyal. Semua bank sadar bahwa menarik nasabah mungkin mudah, tapi membuat mereka menjadi loyal jauh lebih sulit, karena dalam era persaingan bisnis yang ketat seperti sekarang para pemasar dituntut terus berusaha mempertahankan kesetiaan konsumen.
Dewasa ini jumlah pertumbuhan bank swasta nasional sangatlah cepat, sehingga membawa perekonomian Indonesia semakin berkembang. PT. Bank Bukopin Tbk merupakan salah satu bank swasta di Indonesia saat ini telah tumbuh dan berkembang hingga akhirnya bisa masuk ke dalam kelompok bank menengah di Indonesia dari sisi aset. Agar tetap eksis dalam kancah persaingan perbankan nasional, maka dalam beberapa tahun belakangan ini Bank Bukopin sedang gencar-gencarnya melakukan peningkatkan mutu standar pelayanannya yang berintegrasi kepada nasabah sesuai standar layanan perbankan internasional yang tujuannya adalah kepuasan dan loyalitas nasabah dan pada akhirnya berdampak positif pada pertumbuhan dana pihak ketiga. Karena kunci sukses di pasar persaingan khususnya di dunia perbankan bukan terletak pada bunga (harga) akan tetapi terletak pada distribusi pelayanan untuk menciptakan nasabah yang loyal dengan meretensi nasabahnya. Untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan kerjasama yang baik dari semua anggota karena kerjasama yang baik akan dapat diwujudkan apabila ada suatu komunikasi yang baik pula.
Hal ini menjadi penting, karena sebagai institusi yang bergerak di bidang jasa pelayanan publik, kepuasan nasabah adalah hal yang sangat mutlak. Karena hal ini bertujuan untuk mempertahankan nasabah agar tetap setia di Bank Bukopin dan tentunya untuk menarik nasabah-nasabah baru, namun tak dapat disangkal dalam operasional kerja sehari-hari berbagai hambatan komunikasi selalu saja muncul, seperti hambatan teknis dan struktur. Tentunya hambatan-hambatan ini jika dibiarkan terus menerus pada akhirnya akan sangat mengganggu operasional kerja, yang berujung pada bentuk pelayanan kepada nasabah yang juga sudah pasti buruk.
Bank Bukopin merupakan salah satu bank yang menjadikan pelayanan sebagai prioritas utama dalam membangun citranya di tengah-tengah masyarakat. Sebagai bank swasta yang masih terus berkembang, Bank Bukopin dapat bertahan dalam menghadapi persaingan dalam dunia perbankan sampai saat ini. Selain itu, dilihat dari jumlah nasabah atau pertumbuhan Dana Pihak Ketiga, Bank Bukopin masih berada dibawah bank-bank besar lainnya, sehingga membuat Bukopin masih harus secara konsisten dan kontinu (berkelanjutan) meningkatkan pelayanan yang berbeda dari bank-bank lain untuk membangun loyalitas nasabah dan meningkatkan pertumbuhan dana pihak ketiganya.
Berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh MarkPlus Insight dan Majalah Infobank (Edisi Februari 2012), bank Bukopin berhasil meraih Indonesian Bank Loyality Award (IBLA) 2012, Bank Bukopin memiliki kualitas pelayanan yang baik. Dengan melihat permasalahan yang ada, maka penelitian ini diarahkan untuk menganalisis mengenai bagaimana meningkatkan loyalitas nasabah PT. Bank Bukopin,Tbk dengan didukung peningkatan kualitas pelayanan (service quality) yang diberikan perusahaan dan meningkatkan keunggulan produk.
Dengan menjadi sebuah perusahaan publik, Bank Bukopin telah melangkah ke depan untuk menjadi salah satu bank ritel terkemuka di Indonesia. Bank Bukopin mengedepankan layanan yang berkualitas melalui seluruh jaringan distribusi yang di miliki dan Bank Bukopin optimistis akan terus tumbuh untuk selalu memberikan nilai terbaik kepada para nasabahnya dan selalu berupaya untuk memahami kebutuhan nasabah sesuai dengan  mottonya "Memahami dan Memberi Solusi".
Bank Bukopin terus memaksimalkan pelayanan kepada nasabahnya, diantaranya dengan meningkatkan jumlah kantor cabang, mengembangkan jaringan ATM, dan menambah fitur-fitur produk yang semakin beragam. Selanjutnya untuk lebih meningkatkan pelayanan jasa perbankan kepada masyarakat, Bank Bukopin membuka kantor-kantor cabang di kota-kota besar, salah satunya adalah di Makassar yang saat ini menjadi lokasi penelitian yang dilakukan oleh penulis. Selain itu Bank Bukopin juga didukung oleh 333 ATM yang tergabung dengan lebih dari 20.000 ATM, jaringan nasional dan lebih dari 500.000 ATM plus serta visa International di seluruh dunia serta dapat ditarik tunai di ATM bank mana saja tanpa dikenakan biaya, karena seluruh Kantor Bank Bukopin sejak lama telah terhubung dalam satu jaringan Real Time Online.
Dengan kinerja usaha yang terus tumbuh dengan sehat disertai inovasi produk dan peningkatan kualitas layanan, Bank Bukopin memperoleh penghargaan yaitu :
v      Banking Service Excellence Awards 2011 oleh Majalah Infobank
2nd Best Mobile Banking Commercial Bank
v      Banking Service Excellence Awards 2011 oleh Majalah Infobank
10th Best Performance Overall Commercial Bank
v      Banking Service Excellence Awards 2011 oleh Majalah Infobank
3rd Best SMS Banking Commercial Bank
v      Rekor Bisnis sebagai Bank Pertama Yang Serentak Melakukan Pameran Tabungan Terbanyak di Indonesia oleh Harian Seputar Indonesia
v      Indonesia Property & Bank Award 2011 oleh Majalah Property & Bank
The Most Favourite Banking Hall service Concept
v      Penghargaan InfoBank Golden Trophy dari majalah InfoBank dengan predikat bank berkinerja sangat bagus selama lima tahun berturut-turut.
v      Best Teller dan Best SMS Banking dalam pemilihan Banking Service Excellence Award.
v      Penghargaan Banking Service Excellence Award tahun 2008-2009 dari Marketing Research Indonesia (MRI).
v      Sebagai 6th Best Overall Performance dari majalah InfoBank.
v      Tahun 2010, dengan semangat service excellence, Bank Bukopin menerima penghargaan Call Center Award (CCA) 2010 dengan predikat very good.
Saat ini Bank Bukopin terus mengembangkan program operasionalnya dengan menerapkan skala prioritas sesuai strategi jangka pendek yang telah disusun dengan matang. Penerapan strategi tersebut ditujukan untuk menjamin dipenuhinya layanan perbankan yang komprehensif kepada nasabah melalui jaringan yang terhubung secara nasional maupun internasional, produk yang beragam serta mutu pelayanan dengan standar yang tinggi.
Hal  inilah yang melatarbelakangi diperlukannya strategi pelayanan suatu perusahaan di dalam melaksanakan fungsinya, dalam hal ini Bank Bukopin, namun yang terpenting yaitu bagaimana merumuskan pelayanan tersebut sedemikian rupa agar di pahami oleh masyarakat. Untuk membangun hubungan jangka panjang dengan nasabahnya, maka Bank Bukopin harus selalu berkomunikasi dengan nasabahnya sehingga nasabah merasa aman dan percaya terhadap bank tersebut karena nasabah dapat dengan mudah memperoleh informasi yang mereka inginkan dari bank tersebut.
Hal tersebut membuktikan bahwa peranan karyawan dalam organisasi perbankan mempunyai kedudukan yang sangat strategis. Apabila sumber daya manusia perbankan baik, maka akan membuat organisasi perbankan berjalan dengan baik, demikian sebaliknya. Berdasarkan fenomena yang terjadi dalam masyarakat, diketahui bahwa masyarakat menginginkan sektor perbankan yang mampu melaksanakan fungsinya sebagai lembaga intermediarydengan baik. Pemenuhan tuntutan itu sangat tergantung kepada karyawan bank sebagai ujung tombak pelayanan perbankan kepada masyarakat.
Melihat dari visi dan misi Bank Bukopin itu sendiri yaitu menjadi bank yang terpercaya dalam pelayanan jasa keuangan dan memberikan pelayanan yang terbaik kepada nasabah, maka penulis terdorong untuk melakukan penelitian dengan judul : “Strategi Pelayanan PT. Bank Bukopin Tbk dalam Meningkatkan Loyalitas Nasabah di Makassar”.

Untuk mendapatkan file lengkap dalam bentuk MS-Word, (bukan pdf) silahkan klik Cara Mendapatkan File atau klik disini