Thursday, July 25, 2013

CONTOH MAKALAH SOSIOLOGI LENGKAP DAN TERBARU



MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK INDIVIDU, MAKHLUK SOSIAL dan MASYARAKAT


BAB I 

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Setiap manusia lahir ke dunia dengan membawa potensi masing-masing yang dapat di kembangkan melalui proses belajar maupun pendidikan. Oleh karena itu manusia lahir sebagai makhluk individu, memiliki perbedaan yang khas dengan dengan manusia lain. (Sapriya, 2006).
Selanjutnya hidup bermasyarakat ditandai saling gotong-royong da tolong-menolong di antara sesama warganya.kedua tindakan tersebut amat penting bagi tercapainya tujuan bersama, yakni keamanan, kenyamanan, dan kesahteraan. Gotong-royong dan tolong-menolong hanya mungkin tercapai kalau terjalin tenggang rasa di antara sesama warga (Guru, 2003).
Aris tolteles berpendapat bahwa manusia merupakan perjumlahan daripada beberapa kemampuan tertentu yang masing-masing bekerja tersendiri serperti kemampuan-kemampuan vegetative yaitu makan dan berkembangbiak, kemampuan sensitive, yaitu kemampuan bergerak mengamat-amati, bernafsu dan berperasaan, dan kemapuan intelektif, yaitu berkemampuan berkecerdasan. (Udin S. Winataputra, Materi dan Pembelajaran PKn SD, 2007).
Berangkat dari uraian di atas, kajian makalah ini mengungkapkan manusia sebagai makhluk individu, makhluk sosial dan masyarakat.

B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan permasalahan yang telah penyusun kemukakan diatas, maka penyusun mengidentifikasikan beberapa pertanyaan, ialah sebagai berikut :
1.      Apa pengertian dari  individu, sosial dan masyarakat ?
2.      Apakah individu sebagai insan Tuhan Yang Maha Esa ?
3.      Bagaimana interaksi individu dan masyarakat ?
4.      Apa yang dimaksud dengan interaksi sosial dan sosialisasi ?
5.      Apa saja aspek-aspek perubahan sosial ?

C.     Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.         Sebagai bentuk tanggung jawab dalam memenuhi tugas Mata Kuliah Dasar Teknologi  Informasi dan Komunikasi
2.         Mengetahui pengertian individu, individu sebagai makhluk social dan masyarakat
3.         Mengetahui pengertian individu sebagai insan Tuhan Yang Maha Esa
4.         Mengetahui interaksi individu dan masyarakat
5.         Mengetahui pengertian interaksi sscial dan sosialisasi
6.         Mengetahui aspek-aspek perubahan sosial

D.    Prosedur Pemecahan Masalah

Makalah ini mengungkapkan tentang manusia sebagai makhluk individu, makhluk sosial dan masyarakat yang sejatinya sebagai manusia untuk dapat berinteraksi dengan baik sesama individu dan sebagai insan Tuhan. Oleh karena itu, metode yang digunakan dalam makalah ini adalah metode deskriptif yakni metode yang mempunyai tujuan pemecahan masalah yang sedang berlangsung. (Sapriya, 2006)

E.     Sistematika Penulisan


Makalah ini terdiri dari tiga bab, diawali bab I pendahuluan dan diakhiri dengan bab III kesimpulan.
            Bab I Pendahuluan meliputi: latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan, prosedur pemecahan masalah, dan sistematika penulisan.
            Bab II Pembahasan berisikan mengenai manusia sebagai makhluk individu, makhluk sosial dan masyarakat.
            Bab III Penutup merupakan bab terakhir berisikan : kesimpulan.

BAB IIMANUSIA SEBAGAI MAKHLUK INDIVIDU, MAKHLUK SOSIAL dan MASYARKAT

A.    Pengertian Individu, sosial dan Masyarakat

1.         Pengertian Individu

Setiap manusia lahir ke dunia dengan membawa potensi masing-masing yang dapat di kembangkan melalui proses belajar maupun pendidikan. Oleh karena itu manusia lahir sebagai makhluk individu, memiliki perbedaan yang khas dengan dengan manusia lain, hal ini sesuai dengan Pendapat Allport mengatakan bahwa individu berasal dari kata “individe” yang berarti tak dapat dibagi-bagi, maksudnya bahwa manusia merupakan satu kesatuan jiwa dan raga yang tak dapat dipisah satu sama lain. Seorang manusia dikatakan sebagai suatu individu apabila adanya keterpaduan antara jiwa dan raganya. Kegiatan fisik yang dilakukan manusia merupakan kegiatan manifestasi dari kegiatan psikisnya. Contohnya : seseorang melakukan kegiatan menulis merupakan perintah dari jiwa/psikisnya untuk menyuruh fisik (dalam hal ini tangannya) untuk menulis sesuatu dengan pulpen pada kertas. Tanpa adanya keterpaduan dari kedua aspek tersebut maka manusia tidak dapat melakukan sesuatu secara sempurna.
Pada saat seorang anak lahir ke dunia ini, sampai usia kanak-kanak awal (sampai umur 5 tahun) ia mulai mengenal siapa dirinya. Melalui proses sosialisasi yang dimulai dari lingkungan keluarganya ia mulia mengenal “aku”. Proses ini terus tumbuh dan berkembang sampai seorang terbentuk keperibadiannya secara untuh. (Sapriya, 2006) 
Individu berasal dari kata in dan divided. Dalam Bahasa Inggris insalah satunya mengandung pengertian tidak, sedangkan dengan divided artinya terbagi. Jadi individu artinya tidak terbagi, atau suatu kesatuan yang tidak dapat dibagi-bagi melainkan sebagai kesatuan yang terbatas, yaitu sebagai manusia perorangan sehingga sering digunakan sebagai sebutan “orang-seorang” atau “manusia perorangan. Individu merupakan kesatuan aspek jasmani dan rohani. Dengan kemampuan rohaninya individu dapat berhubungan dan berfikir serta dengan pikirannya itu mengendalikan dan memimpin sesanggupan akali dan kesanggupan budi untuk mengatasi segala masalah dan kenyataan yang dialaminya. (Ridwan Effendi, 2006).
Pada dasarnya, setiap individu memiliki ciri-ciri dan karakteristik yang berbeda. Perbedaan-perbedaan tersebut semakin terlihat sejalan dengan perkembangan individu. Kata perbedaan dalam istilah perbedaan individual menurut Landgren ( 1980:578) merupakan suatu variasi yan terjadi, baik pada aspek fisik maupun psikologis. (Mulyani Sumantri, 2007)
Individu bukan berarti manusia sebagai suatu keseluruhan yang tak dapat dibagi melainkan sebagai suatu keseluruhan yang terbatas yaitu sebagai manusia perorangan. (Abu, 2003)

2.      Pengertian individu sebagai makhluk sosial

Manusia adalah makhluk individu yang tidak dapat melepaskan diri dari hubungan dengan sesama manusia lain didalam menjalani kehidupannya. Berbeda dengan makhluk lainnya, seperti hewan misalnya, tanpa manusia lainnya, maunsia akan mati. Sejak dilahirkan, manusia merupakan individu yang membutuhkan individu lainnya untuk dapat bertahan dan melangsungkan kehidupannya. Seorang bayi yang baru dilahirkan, membutuhkan seorang ibu yang dapat memberinya, melatih belajar, bermain dan sebagainya. Selain itu, berbeda dengan hewan yang mempunyai kelengkapan fisik untuk dapat bertahan sendiri, sedangkan manusia tidak. Seperti yang dijelaskan diatas manusia sejak dilahirkan telah membutuhkan manusia lainnya untuk dapat bertahan sehingga jika ia hidup sendiri akan mengalami gangguan kejiwaan. (Udin S. Winataputra, MATERI DAN PEMBELAJARAN IPS SD, 2008).

3.      Pengertian Masyarakat

Kata masyarakat merupakan terjemahan dari kata (community atau komunitas). Secara definitif dapat di definisikan sebagai kelompok manusia (individu) yang terdiri dari sejumlah keluarga yang bertempat tinggal di suatu tempat (wilayah) tertentu baik di desa maupun di perkotaan yang telah terjadi interaksi sosial agar anggotanya atau adanya hubungan sosial (social relationship) yang memiliki norma dan nilai tertentu yan harus dipatuhi oleh semua anggotanya dan memiliki tujuan tertentu pula. Sedangkan Selo Soemardjan (1962) mengemukakan bahwa: “Masyarakat adalah suatu wilayah kehidupan sosial yang ditandai oleh suatu derajat hubungan tertentu. (Sapriya, 2006).
(Soekamto, 2007) Masyarakat merupakan manusia yang hidup bersama dan secara teoritis adalah dua orang yang hidup bersama.
Masyarakat adalah sekumpulan manusia yang saling bertinteraksi. Suatu kesatuan masyarakat dapat memiliki prasarana yang dapat memungkinkan para warganya beriteraksi. (Koentjaraningrat., 2005)
Masyarakat terdiri atas berbagai orang, dengan ragam Pandangan,sikap,nilai dan kepentinangan. Apabila masing-masing orang mementingkan urusannya sendiri, hidup bermasyarakat akan kacau. Hidup bermasyarakat akan lancar apabila terbina kerukunan di antara sesama warganya. Demi terciptanya kerukunan itu, harus ada sikap saling menghargai di antara sesama warga.
Selanjutnya hidup bermasyarakat ditandai saling gotong-royong da tolong-menolong di antara sesama warganya.kedua tindakan tersebut amat penting bagi tercapainya tujuan bersama, yakni keamanan, kenyamanan, dan kesahteraan. Gotong-royong dan tolong-menolong hanya mungkin tercapai kalau terjalin tenggang rasa di antara sesama warga. (Guru, 2003).
Dalam dunia masyarakat, manusia diupayakan mengoptimalkan seluruh potensi dan kemampuan bermasyarakat untuk dapat mengaktualisasikan dirinya semaksimal mungkin. Agar mempunyai hak untuk menentukan nasibnya sendiri, hak untuk diterima sebagai warga masyarakat, serta hak untuk mewujudkan kemampuannya. Disamping mempunyai hak, manusia juga mempunyai kewajiban untuk memberikan konstribusi nyata bagi kemajuan masyarakat. (Ihat Hatimah, 2008)
Adapun unsur-unsur dari masyarakat, Mac Iver dan Page mengemukakan sebagai berikut: “(1) seperasaan, (2) sepenanggungan, dan (3) saling memerlukan”. Di samping ada beberapa tipe masyarakat setempat menurut davis (1960:313) sebagai berikut: (1) jumlah penduduk, (2) luas, kekayaan dan kepadatan penduduk, (3) memiliki fungsi khusus dari masyarakat setempat terhadap seluruh organisasi masyarakat yang bersangkutan. Tipe tersebut digunakan untuk membedakan jenis-jenis masyarakat yang sederhana dan modern, masyarakat pedesaan dan perkotaan. Pada masyarakat modern sering dibedakan antara masyarakat pedesaan dan perkotaan dalam bentuk “rural community” dan “urban community”.
Dalam kehidupan masyarakat pedesaan, hubungan yang terjalin antara anggota masyarakat lebih harmonis, mendalam dengan sistem berkehidupan berkelompok. Pekerjaan utama masyarakat biasanya terkonsentrasi pada sector pertanian. Dalam mengolah pertanian cara-cara yang digunakan masih (sangat) tradisional dan tidak efesien yang lazim disebut sebagai “subsistence farming”. Pada umumnya golongan-golongan orang-orang tua dijadikan sebagai penasehat dalam kehidupan, sehingga peranan mereka begitu penting. Masalah yang timbul kemudian adalah sulitnya mereka mengadakan perubahan-perubahan. Hal ini disebabkan Pandangan-pandangan mereka yang didasarkan pada tradisi yang kuat. Karena itu, sulit sekali untuk merubah pola pikir, sikap maupun tingkah laku penduduknya. Kelangkaan alat komunikasi turut mempengaruhi terhadap proses perubahan-perubahan yang diharapkan. Salah satu arus komunikasi yang berkembang adalah desas-desus yang bersifat negatif. Pada masyarakat perkotaan (urban community) tekanan pengertian terletak pada sifat-sifat serta ciri-ciri kehidupan yang berbeda dengan masyarakat pedesaan antara lain perbedaan dalam menilai keperluan hidup. (Sapriya, 2006).
Selanjutnya Koentjoraningrat ( 1999:32-33) menyebutkan ada 6 tipe masyarakat indonesia, yaitu sebagai berikut :
1.      Tipe masyarakat yang berkebunyang amat sederhana dengan keladi dan ubi jalar sebagai tanaman pokoknya dalam kombinasi dengan berburu atau meramu.
2.      Tipe masyarakat pedesaan berdasarkan bercocok tanam di lading atau di sawah dengan padi sebagai tanaman pokok. System dasar kemasyarakatannya berupa “Komunitas petani” dengan diferensiasi dan stratifikasi sosial yang sedang dan merasakan diri bagian bawah dari suatu kebudayaan yang lebih besar, dengan suatu bagian atas yang dianggap lebih halus dan beradab didalam masyarakat kota.
3.      Tipe masyarakat pedesaan berdasarkan bercocok tanam di ladang atau di sawah dengan padi sebagai tanaman pokok. Sistem dasar kemasyarakatanya berupa desa komunitas petani dengan diferensiasi dan stratifikasi sosial yang sedang.
4.      Tipe masyarakat pedesaan berdasarkan bercocok tanam di ladang atau di sawah dengan padi sebagai tanaman pokok. Sistem dasar kemasyarakatanya berupa desa komunitas petani dengan diferensiasi dan stratifikasi sosial yang agak kompleks.
5.      Tipe masyarakat perkotaan yang mempunyai ciri-ciri pusat pemerintahan dengan sector perdangan dan industri yang lemah.
6.      Tipe masyarakat metropolitanyang mulai mengembangkan suatu sektor perdangan dan industri yang agak berarti, tetapi yang masih didominasi oleh aktivitas kehidupan pemerintah. (Udin S. Winataputra, Materi dan Pembelajaran PKn SD, 2007).

B.     Individu Sebagai Insan Tuhan Yang Maha Esa

Individu berasal dari kata in-dividere artinya tidak dapat dibagi-bagikan atau sebagai sebutan bagi manusia yang berdiri sendiri, manusia perseorangan. Namun, individu yang dimaksud adalah insan (manusia). Aris tolteles berpendapat bahwa manusia merupakan perjumlahan daripada beberapa kemampuan tertentu yang masing-masing bekerja tersendiri serperti kemampuan-kemampuan vegetative yaitu makan dan berkembangbiak, kemampuan sensitive, yaitu kemampuan bergerak mengamat-amati, bernafsu dan berperasaan, dan kemapuan intelektif, yaitu berkemampuan berkecerdasan.
Jika manusia dibelah maka akan menjadi 2 bagian, yaitu satu bagian belahan fisik (kongkret) atau disebut juga raga atau jasmani, dan satu bagian lagi belahan non fisik (abstrak) atau disebut jiwa atau rohani. Jasamani membutuhkan sandang, pangan dan papan. Sedangkan rohani membutuhkan sesuatu yang tidak dibutuhkan oleh jasmani, seperti keamanan dari rasa takut, perlindungan dari rasa ketidak adilan, dan kepercayaan atau keyakinan. (Udin S. Winataputra, Materi dan Pembelajaran PKn SD, 2007).

C.     Interaksi Individu dan Masyarakat

Dalam melangsungkan kehidupannya dan untuk memenuhi kebutuhan yang sangat kompleks, manusia harus melakukan interaksi atau saling berhubungan antara yang satu dengan yang lainnya. Berbicara tentang interksi, maka perlu ditelaah dulu apa sebenarnya arti interaksi itu. Menurut ahli ilmu psikologi sosial bahwa interaksi sosial adalah saling berhubungan antar dua manusia atau lebih, dimana manusia yang satu terhadap yang lain saling mempengaruhi.
Masyarakat dalam aspeknya yang dinamis, terdiri dari individu-individu dan kelompok-kelompok yang berada dalam interaksi.
Jenis yang paling umum dari proses sosial adalah interaksi sosial. Dengan interaksi sosial dimaksudkn bahwa adanya pengaruh timbal balik antra individu  dengan kelompok dalam upaya memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam hidup sehari-hari secara bersama-sama. Dengan kata lain bahwa setiap interaksi dua arah akan menstimulir yang lain untuk mengubah tingkah laku dari orang-orang yang sedang berinteraksi
Interaksi sosial yang terjadi antara individu dan masyarakat adalah :
1.      Interaksi yang melibatkan sejumlah orang, misalnya; individu dengan individu, individu dengan grup dan grup dengan grup
2.      Adanya tingkat keintiman, misalnya ada yang bersifat primer, ada yang bersifat sekunder, ada yang bersifat gemein schaftdan ada yang bersifat gesel schaftdan dan sebagainya.
3.      Adanya proses sosial. Dalam hal ini terdapat beberapa bentuk proses social, ada yang berbentuk positif dan ada pula yang berbentuk negative. Yang posistif dinamakan integrasi atau assosiatif process, yaitu proses yang menyatukan. Sedangkan yang negative adalah dinamakan disintegrative atau disassosiatif process, yaitu proses yang memisahkan. Termasuk dalam proses yang menyatukan (integrasi) ialah ; coopratioan (koperasi), consensus (kerjasama) dan assimilation (asimilasi). Termasuk dalam proses yang memisahkan (disintregasi) adalah.; conflick ( konflik sama dengan persengketaan, competisi ( kompetisi sama dengan persaingan. Kondisi yang Nampak dalam bentuk intregasi adalah ; (1) keseluruhan anggota kelompok berkemauan untuk tetap pada kelompoknya, seolah-olah satu sama lain saling terkait, sedangkan disintregasi adalah Keadaan sebaliknya. Istilah lain yang sering digunakan dalam hal ini adalah organis dan disorganis. Organis apabila tiap anggota dalam suatu kelompok berpungsi terhadap keseluruhan kelompok, sedangkan disorganis apabila satu sama lain tidak terjadi hubungan lagi . (Sapriya, 2006)

D.    Interaksi Sosial Dan Sosialisasi

1.      Interaksi Sosial

kata interaksi berasal dari kata inter dan action. Interaksi social adalah hubungan timbale balik saling mempengaruhi antara individu, kelompok social, dan masyarakat.
Interaksi adalah proses dimana orang-orang berkomunikasi saling pengaruh mempengaruhi dalam pikiran dan tindakan. Seperti kita ketahui, bahwa manusia dalam kehidupan sehari-hari tidaklah lepas dari hubungannsatu dengan yang lain.
Interaksi sosial antara individu terjadi manakala dua orang bertemu, interaksi dimulai pada saat itu mereka saling menegur, berjabat tangan, saling berbicara atau bahkan mungkin berkelahi. Aktivitas-aktivtas semacam itu merupakan bentuk-bentuk dari interaksi social.
Interaksi antara kelompok-kelompok manusia terjadi antara kelompok tersebut  sebagai kesatuan dan biasanya tidak menyangkut pribadi anggota-anggotanya. Interaksi sosial antara kelompok-kelompok terjadi antara kelompok lazim juga terjadi di dalam masyarakat. Interaksi tersebut terjadi lebih menyolok, apabila terjadi pertentangan antara kepentingan-kepentingan kelompok. Interaksi social terjadi dengan didasari oleh faktor-faktor : imitasi, sugesti, identifikasi dan simpati.
Imitasi adalah suatu proses peniruan atau meniru. Banyak prilaku kita sebenarnya diawali dengan meniru. Pada usia kanak-kanak dan dewasa kita melakukan peniruan. Seperti meniru potongan model baju, celana, model rambut, dan hal lain-lain. Dalam proses peniruan biasanya lebih terjadi dan mudah berubah, artinya proses peniruan serimgkali tidqak bertahan lama, karena ada model baru, maka berubah lagi pada model tersebut.
Sugesti adalah satu proses dimana seorang individu menerima suatu cara penglihatan atau pedoman-pedoman tingkah laku dari orang lain tanpa dikritik terlebih dahulu. Yang dimaksud dengan sugesti disini adalah penagruh psychis, baik yang datang dari dirinya sendiri maupun dari orang lain, yang pada umumnya diterima tanpa adanya daya kritik.
Identifikasi dalam psikologi berarti dorongan untuk menjadi identik (sama) dengan orang lain, baik secara lahirah maupun batiniah. Di sini dapat diketahui, bahwa hubungan social yang berlangsung pada identifikasi adalah lebih mendalam daripada hubungan yang berlangsung atas proses-proses sugesti maupun imitasi.
Simpati adalah perasaan tertariknya orang yang satu terhadap orang yang lain. Simpati timbul tidak atas dasar logis rasional, melainkan berdasarkan penilaian perasaan seperti juga pada proses identifikasi. Bahkan orang dapat tiba-tiba merasa tertarik pada orang lain dengan sendirinya karena keseluruhan cara-cara tingkah laku menarik baginya. (Ridwan Effendi, 2006).

2.      Sosialisasi

Berger mendefinisikan sosialisasi sebagai “a process by which a child learms to be a participant member of society” yaitu suatu proses dimana seorang anak belajar menjadi seorang amggota yang berpatisipasi dalam masyarakat.
Menurut mead setiap anggota baru masyarakat harus mempelajari peranan-peranan yang ada dalam masyarakat yaitu proses yang dinamakannya pengambilan peranan (role taking). Dalam proses ini seseorang belajar  untuk mengetahui peranan yang harus dijalankannya serta peranan yang harus dijalankan orang lain. Melalui penguasaan peranan yang ada dalam masyarakat ini seseorang dapat bertinteraksi dengan orang lain.
Siapa yang menjalankan proses sosialisasi? Dalam sosiologi kit berbicara mengenai agen-agen sosialisasi (agen socialization) atau pihak-pihak yang melaksanakan sosialisasi.
Pada awal kehidupan manusia biasanya agen sosialisasi atas orangtua dan saudara kandung. Pada masyarakat yang mengenal sistem keluarga luas (extended family) agen sosialisasi bisa berjumlah lebih banyak dan dapat mencakup pula nenek, paman, bibi dan sebagainya. Apabila pesan-pesan yang disampaikan oleh agen-agen sosialisasi dalam masyarakat sepadan dan tidak salin bertentangan melainkan saling mendukung maka proses sosialisasi diharapkan dapat berjalan dengan baik. Namun dalam masyarakat yang didalamnya terdapat agen sosialisasi dengan pesan yang bertentangan dijumpai kecenderungan bahwa warga masyarakat yang menjalani proses sosialisasi sering mengalami konflik pribadi karena diombang-ambingkan oleh agen sosialisasi yang berlebihan. Seorang anak sering harus memilih antara menaati orang tua atau mengikuti teman (misalnya dalam hal merorok, keluar malam tanpa izin orang tua, atau penyalah gunaan narkotika), dan pilihan apapun yang diambilnya akan mempertentangkannya dengan salah satu agen sosialisasi. Konflik pribadi pun akan terjadi manakala seseorang disosialisasi karena mempelajari peranan baru, dan aturan dalam proses sosialisasi ini bertentangan dengan sosialisasi yang pernah dialaminya. (Ridwan Effendi, 2006).

E.     Aspek-aspek Perubahan Sosial

Dalam Pandangan orang awam, sering terjadi kerancuan antara istilah perubahan social dengan perubahan budaya. Hal ini disebabkan adanya kenayataan bahwa setiap terjadi proses perubahan budaya mengakibatkan struktur dan fungsi masyarakatnya akan berubah juga sehingga kita sering mengatakan dengan istilah perubahan social budaya. Namun demikian, para ahli ilmu social termasuk antropologi secara tegas membedakan pengertian perubahan budaya dengan perubahan social. Pada perubahan budaya, hal yang berubah itu adalah unsur-unsur budayanya, seperti pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat dan setiap kemampuan serta kebiasaan manusia sebagai masyarakat. Sedangkan pada perubahan social hal yang berubah adalah struktur dan system social yang mengatur pola kehidupan masyarakat.
Terdapat beberapa aspek yang menyebabkan terjadinya perubahan social di Indonesia, diantaranya adalah demokratisasi, globalisasi, dan perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Secara rinci, uraian tentang hal tersebut akan dipaparkan di bawah ini.
A.             Demokratisasi
Gelombang reformasi total yang melanda kehidupan bermasyarakat dan berbangsa indonesia dewasa ini telah menimbulkan berbagai perubahan yang mendasar segala aspek kehidupan manusia yang meliputi bidang politik, ekonomi, hukum, kebudayaan dan pendidikan. Dalam system pemerintahan telah terjadi perubahan penyelenggaraan yang bersfat sentralistik yag menghilangkan inisiatif atau prakarsa, kreativitas, keseragaman baik pribadi maupun masyarakat, kini kita memerlukan pradigma baru yang mampu menghidupkan dan medorong serta mengaktualisasikan dan meningkatkan partisipasi masyarakat.
Kehidupan baru tersebut adalah kehidupan yang memberikan peluang kepada setiap orang, kelompok, organisasi, masyarakat untuk berpendapat, mengambil bagian secara aktif sesuasi dengan kapasitasnya masing-masing namun tidak menyimpang dari aturan-aturan yang berlaku dan falsafah hidup bangsa Indonesia. Proses perubahan seperti itu adalah “ demokratisasi”.
B.              Globalisasi
Memasuki abad XXI manusia di hadapkan pada berbagai tantangan yang ditandai oleh pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, kompleksitas dan masalah kesejahteraan material dan spiritual, serta perubahan social yang semakin cepat. Kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi telah mengantarkan manusia memasuki gerbang kehidupan masyarakat global. Globalisasi terjadi dalam berbagai bidang kehidupan, sperti politik, ekonomi, budaya, dan tekhnologi.
C.              Perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi
Hidup manusia sangat dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Temuan-temuan baru hasil riset secara langsung atau tidak merupakan kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa peradaban manusia salah satunya sangat bergantung pada ilmu dan teknologi. Teknologi banyak menghasilkan perangkat, seperti alat transportasi, telekomunikasi, computer, dan peralatan perang. Berkat kemajuan yang sangat cepat dan lebih mudah dalam kedua bidang ini pemenuhan kebutuhan manusia dapat dilakukan secara lebih cepat dan lebih mudah disamping penciptaan di berbagai bidang kehidupan, seperti kesehatan, pemukiman, pendidikan dan sebagainya. Kemajuan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut dapat mengubah cara berpikir, cara bekerja dan cara hidup manusia. (Dinn Wayudin, 2008)

BAB III PENUTUP

A.    Kesimpulan

Berdasarkan kajian teoritis dan kajian permasalahan diatas, dapat diambil kesimpulan yaitu sebagai berikut :
Individu berasal dari kata in dan divided. Dalam Bahasa Inggris insalah satunya mengandung pengertian tidak, sedangkan dengan divided artinya terbagi. Jadi individu artinya tidak terbagi, atau suatu kesatuan yang tidak dapat dibagi-bagi melainkan sebagai kesatuan yang terbatas, yaitu sebagai manusia perorangan sehingga sering digunakan sebagai sebutan “orang-seorang” atau “manusia perorangan. Individu merupakan kesatuan aspek jasmani dan rohani. Dengan kemampuan rohaninya individu dapat berhubungan dan berfikir serta dengan pikirannya itu mengendalikan dan memimpin sesanggupan akali dan kesanggupan budi untuk mengatasi segala masalah dan kenyataan yang dialaminya.
Manusia adalah makhluk individu yang tidak dapat melepaskan diri dari hubungan dengan sesama manusia lain didalam menjalani kehidupannya.
Masyarakat adalah sekumpulan manusia yang saling bertinteraksi. Suatu kesatuan masyarakat dapat memiliki prasarana yang dapat memungkinkan para warganya beriteraksi.
Individu berasal dari kata in-dividere artinya tidak dapat dibagi-bagikan atau sebagai sebutan bagi manusia yang berdiri sendiri, manusia perseorangan. Namun, individu yang dimaksud adalah insan (manusia).
Interaksi yang melibatkan sejumlah orang, misalnya; individu dengan individu, individu dengan grup dan grup dengan grup.
Interaksi adalah proses dimana orang-orang berkomunikasi saling pengaruh mempengaruhi dalam pikiran dan tindakan. Seperti kita ketahui, bahwa manusia dalam kehidupan sehari-hari tidaklah lepas dari hubungannsatu dengan yang lain. (Ridwan Effendi, 2006).
Berger mendefinisikan sosialisasi sebagai “a process by which a child learms to be a participant member of society” yaitu suatu proses dimana seorang anak belajar menjadi seorang amggota yang berpatisipasi dalam masyarakat.
Terdapat beberapa aspek yang menyebabkan terjadinya perubahan social di Indonesia, diantaranya adalah demokratisasi, globalisasi, dan perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi.

                                                                 Daftar Pustaka

 

Abu, A. (2003). Ilmu Sosial Dasar. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Dinn Wayudin, d. (2008). Pengantar Pendidikan. Jakarta : UNIVERSITAS TERBUKA.
Guru, T. A. (2003). PPKn. Jakarta: Erlangga.
Ihat Hatimah, d. (2008). Pembelajaran Berwawasan Kemasyarakatan. Jakarta: UNIVERSITAS TERBUKA.
Koentjaraningrat. (2005). Pengantar Antropologi I. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Mulyani Sumantri, d. (2007). Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: UNIVERSITAS TERBUKA.
Ridwan Effendi, d. (2006). PENDIDIKAN LINGKUNGAN SOSIAL BUDAYA DAN TEKNOLOGI. Bandung : UPI PRESS.
Sapriya, d. (2006). KONSEP DASAR IPS. Bandung: UPI PRESS.
Soekamto, S. (2007). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Nusa.
Udin S. Winataputra, d. (2008). MATERI DAN PEMBELAJARAN IPS SD. Jakarta: UNIVERSITAS TERBUKA.
Udin S. Winataputra, d. (2007). Materi dan Pembelajaran PKn SD. Jakarta: UNIVERSITAS TERBUKA.

No comments:

Post a Comment